Bagi Dividen Rp 1 Triliun dan Lunasi Utang
Matahari Dilego Rp 7,164 Triliun
Sabtu, 6 Maret 2010 | 04:04 WIB
Jakarta, Kompas - Manajemen PT Matahari Putra Prima Tbk akan mengajukan pembagian dividen tunai pada tahun 2010 sebesar Rp 1 triliun. Matahari Putra Prima atau MPP juga akan melunasi sebagian besar utang bank dan obligasi yang nilai totalnya mencapai Rp 3,4 triliun.
Direktur Utama MPP Benjamin J Mailool pada paparan publik di Jakarta, Jumat (5/3), mengatakan, sumber dana untuk pembagian dividen dan pembayaran utang itu akan diperoleh dari hasil penjualan 90,76 persen saham PT Matahari Department Store Tbk, salah satu anak usaha terbesar MPP.
”Selain mengusulkan pembagian dividen Rp 1 triliun, kami akan membayar sebagian besar utang, baik kepada bank maupun obligasi yang kami terbitkan, sebesar Rp 3,4 triliun. Setelah itu, posisi utang kami akan mendekati nol,” kata Benjamin.
Dia menerangkan, posisi utang perseroan saat ini Rp 3,5 triliun. Terdiri atas obligasi senilai 200 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,8 triliun, obligasi rupiah senilai Rp 500 miliar, dan sisanya utang kepada bank.
Matahari akan dijual kepada Meadows Asia Capital (MAC) di harga Rp 2.705,33 per saham atau total Rp 7,164 triliun. Harga tersebut telah disepakati pada perjanjian awal jual-beli antara MPP dan MAC pada 23 Januari lalu. Namun, pengambilalihan Matahari oleh MAC itu masih akan menunggu persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa MPP yang rencananya akan digelar Maret atau April 2010.
MPP akan mempertahankan kepemilikan tidak langsung di Matahari dengan memiliki sekitar 20 persen saham MAC. MAC sendiri adalah perusahaan yang dimiliki CVC Capital Partners, sebuah perusahaan private equity internasional dengan dana kelolaan 45 miliar dollar AS atau sekitar Rp 400 triliun.
Menurut Benjamin, penjualan Matahari memberikan keuntungan cukup strategis, baik bagi perseroan maupun pemegang saham. Keuntungan bagi perseroan adalah memperkuat kondisi keuangan MPP, yang ekses lanjutannya MPP dapat mempercepat rencana ekspansi usaha Hypermart. Sementara bagi pemegang saham, keuntungannya adalah meningkatkan nilai pemegang saham karena harga jual saham Matahari kepada MAC mencapai hampir dua kali lipat dibanding harga pasar saat ini.
Direktur Keuangan MPP Hendra Siddin mengatakan, jika penjualan Matahari disetujui oleh RUPS-LB, perseroan diperkirakan memperoleh laba bersih tahun 2010 sebesar Rp 7,17 triliun. Naik tinggi dibanding laba tahun 2009 sekitar Rp 300 miliar. Jika transaksi tersebut batal, laba bersih perseroan tahun 2010 diperkirakan Rp 399 miliar.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan MPP Lina Latif menambahkan, jika transaksi penjualan Matahari selesai tahun 2010, tahun 2011 manajemen akan mengajukan kepada pemegang saham untuk membagikan dividen tahun 2010 sebesar Rp 1 triliun.
Dalam paparan publik, jajaran direksi MPP juga membantah dugaan rekayasa keuangan dalam transaksi penjualan Matahari. Terkait dengan penjualan Matahari, manajemen MPP menyatakan telah mengikuti semua peraturan yang disyaratkan oleh otoritas pasar modal Indonesia. (REI)
Tampilkan postingan dengan label Strategi dalam tindakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Strategi dalam tindakan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 05 Maret 2010
Kamis, 15 Oktober 2009
Telkom akan Akuisisi Scicom

16/10/2009 - 08:10
Telkom Tingkatkan Kepemilikan Scicom Hingga 51%
Susan Silaban
INILAH.COM, Jakarta - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) bakal meningkatkan kepemilikan sahamnya di Scicom Berhard Malaysia hingga 51%. Memang, Telkom sudah memiliki 9,9% di Scicom.
Demikian diuraikan Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di kantor Kementerian BUMN di Jakarta, tadi malam.
"Kami berminat untuk meningkatkan porsi saham di Scicom supaya menjadi mayoritas hingga 51%," ungkapnya.
Menurutnya, saat ini jumlah kepemilikan saham emiten berkode TLKM di perusahaan Malaysia itu hanya sekitar 10%. Jumlah itu didapat Telkom melalui akuisisi di bulan Februari 2009 lalu oleh.
Akuisisi perusahaan outsourcing itu sebelumnya dilakukan oleh PT Telkom Internasional. Memang, Telkom telah bertemu dengan pihak Scicom dalam rangka mengutarakan niatnya tersebut.
Ia mentargetkan, aksi korporasi tersebut bisa rampung sebelum tahun 2009 berakhir. Sedangkan mengenai masalah pendanaan, pihaknya sudah mengalokasikan sebagian dana dalam belanja modal atau capital expenditure (capex) perseroan tahun ini. [san/cms]
Kamis, 01 Oktober 2009
Agresivitas yang Mencelakakan

Belajar dari Bakrie Life
KOMPAS/RIZA FATHONI
Anggota staf bagian keamanan menjaga kantor Bakrie Life yang telah kosong, dengan status dijual, di ruko di kawasan Fatmawati, Jakarta, Rabu (30/9). Sejumlah kantor cabang Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) ditutup menyusul terjadinya gagal bayar sejak akhir tahun lalu. Bakrie Life sejak awal 2008 sudah diperingatkan untuk mengurangi agresivitasnya dalam membeli saham dan memasarkan produk tertentu.
Artikel Terkait:
Bakrie Life Tetap Bayar -
Tak Ada Peringatan soal Bakrie Life -
Tahun Ini Bakrie Life Siapkan Asuransi Syariah.
Jumat, 2 Oktober 2009 | 09:23 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus gagal bayar yang terjadi di Bakrie Life harus jadi pelajaran bagi semua pihak yang terlibat dalam industri asuransi Indonesia. Belakangan ini, industri asuransi justru lebih fokus pada bisnis investasi daripada bisnis memberikan perlindungan atau proteksi.
Kepala Biro Riset InfoBank Eko B Supriyanto, Kamis (1/10) di Jakarta, mengatakan, sekalipun telah mengalami peningkatan, harus diakui bahwa sampai saat ini masyarakat Indonesia masih enggan membeli produk asuransi karena merasa rugi untuk membayar premi.
”Biasanya orang baru merasa tidak rugi membayar premi atau menyadari pentingnya asuransi saat sedang sakit atau mendapat musibah,” kata Eko.
Untuk menyikapi pola pikir masyarakat Indonesia yang masih seperti itu, lanjut Eko, perusahaan-perusahaan asuransi di Indonesia menciptakan produk asuransi yang dikombinasikan dengan produk investasi.
Produk ini menarik bagi masyarakat karena memberikan imbal hasil investasi sehingga premi yang dibayar dianggap tidak sia-sia bila di kemudian hari pemegang polis tidak menderita sakit atau mendapat musibah.
Bahkan, perusahaan asuransi terkesan berlomba-lomba memberikan imbal hasil yang tinggi, seperti yang ditawarkan produk asuransi Diamond Investa Bakrie Life, yaitu 13 persen per tahun. Dalam hal itu, lanjut Eko, baik perusahaan asuransi maupun masyarakat yang membeli produk itu telah menyalahi falsafah produk asuransi sebagai pelindung atau proteksi terhadap jiwa, kesehatan, ataupun harta benda.
”Untuk mendapatkan perlindungan itu memang harus ada biayanya berupa premi. Ini yang harus disampaikan kepada masyarakat. Bukan dengan menyiasati pola pikir masyarakat yang masih menganggap rugi untuk bayar premi,” ujar Eko.
Perusahaan asuransi Bakrie Life tahun 2005 meluncurkan Diamond Investa yang merupakan kombinasi produk asuransi jiwa dan investasi. Produk ini menawarkan imbal hasil investasi yang cukup tinggi, yaitu sekitar 13 persen per tahun. Untuk dapat memberikan bunga sebesar itu, Bakrie Life menginvestasikan lebih dari dari 80 persen dana nasabah di pasar saham.
Kejatuhan harga saham menyusul krisis global akhir tahun 2008 mengakibatkan Bakrie Life rugi cukup besar. Sejak Juli lalu, Bakrie Life tidak mampu membayar bunga dan pokok investasi nasabah yang jatuh tempo akibat kesulitan likuiditas.
Selain menuntut pengembalian pokok investasi segera mungkin, para nasabah juga memprotes kebijakan manajemen Bakrie Life yang menginvestasikan dana 80 persen lebih di pasar saham. Menurut sejumlah nasabah, sebelumnya manajemen Bakrie Life menyatakan 90 persen dana nasabah akan diinvestasikan ke pasar obligasi, 5 persen ke saham, dan 5 persen dalam bentuk deposito.
Direktur Utama Bakrie Life Timoer Soetanto mengatakan, apa yang disampaikan manajemen Bakrie Life untuk menginvestasikan 90 persen dana nasabah di obligasi tidak mengingat dan tidak ada dalam perjanjian. Karena itu, kerugian Bakrie Life dalam investasi saham menjadi tanggung jawab perusahaan.
Adapun bila komposisi penempatan dana nasabah diatur dalam perjanjian nasabah dan perusahaan, Timoer mengatakan, kerugian investasi akan ditanggung oleh nasabah. Perjanjian seperti ini biasanya ada pada produk asuransi unit link.
Timoer menambahkan, kebijakan perseroan untuk menempatkan lebih dari 80 persen dana nasabah di pasar saham juga tidak menyalahi aturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan. Yang penting, dana nasabah yang ditempatkan dalam satu jenis saham tidak lebih dari 20 persen.
Bakrie Life belum dapat memastikan kapan dana nasabah dapat dikembalikan. Penjadwalan pembayaran dana nasabah yang mekanismenya sedang disusun manajemen langsung ditolak para nasabah dan meminta dana mereka dibayarkan segera karena telah jatuh tempo. (REI)
Selasa, 01 September 2009
Ekspansi Antam Jadi BUMN Super Kaya

01/09/2009 - 11:58
Ekspansi Antam Jadi BUMN Super Kaya
Bastaman
INILAH.COM, Jakarta - Membaiknya harga emas telah mendorong produsen giat melakukan ekspansi. September tahun lalu, harga emas masih sekitar US$ 800 per troy ounce. Kini harga sudah menembus US$ 945,5.
Para pelaku pasar yakin, harga emas akan terus membumbung, dan diperkirakan tembus US$ 1.000 per troy ounce. Maka sejumlah perusahaan telah melakukan ekspansi. Mereka optimistis, prospek bisnis emas tetap akan kinclong. Salah satu yang kini paling gencar melakukan ekspansi adalah PT Aneka Tambang (ANTM).
Guna meningkatkan cadangan emasnya, perusahaan ini dikabarkan tengah melakukan kegiatan eksplorasi penambangan emas di kawasan Aceh Tengah (Nangroe Aceh Darrusalam), Tapanuli Utara (Sumut), Batangasai (Jambi), Pongkor dan Papandayan (Jabar), serta Ajibarang dan Tirtomoyo (Jateng).
Belum diketahui, berapa tambahan cadangan emas yang akan diperoleh Antam dari tambang-tambang tersebut. Sebelumnya, Juli lalu, Antam juga telah mengakuisisi 95% tambang emas Cibaliung Sumber Daya (CSB).
Menurut Bimo Budi Satriyo, Sekretaris Perusahaan Antam, tambang emas Cibaliung mengandung cadangan emas terbukti sekitar 12,8 ton (411.500 troy ounce). Targetnya, eksplorasi tambang Cibaliung baru akan berjalan pada semester kedua 2010.
Pada tahap awal, produksi emas tambang Cibaliung baru mencapai 16.000 troy ounce (500 kg) per tahun. “Baru pada 2011 tambang Cibaliung akan berproduksi penuh, yakni sekitar 64.300 troy ounce (2 ton) emas per tahun,” papar Bimo.
Saat ini tambang Antam di Pongkor Jawa Barat diperkirakan memiliki cadangan emas 1.170.000 troy ounce. Jika ditambah dengan cadangan emas Cibaliung, Antam kini memiliki cadangan emas 2.111.500 troy ounce. Jumlah ini akan meningkat jika tambang-tambang emas Antam yang lain mulai berproduksi.
Apalagi Antam juga berencana untuk mengakuisisi 14% saham PT Newmont Nusa Tengara (NTT). Seperti diketahui, saat ini NTT memproduksi 600 juta ton tembaga dan 60 ton emas per tahun. Jika semua rencana ekspansi itu terwujud, Antam akan menjadi BUMN terkaya setelah Pertamina. [E1]
Rabu, 26 Agustus 2009
Penetrasi Pasar ala Telkomsel

Kamis, 27/08/2009 09:50 WIB
Difabel Dilatih Jadi Teknisi Ponsel
Achmad Rouzni Noor II - detikinet
Jakarta - Telkomsel melibatkan 100 pemuda untuk ikut pelatihan teknisi ponsel yang digelar di enam wilayah: Bukit Tinggi, Lampung, Tawangmangu, Tegal, dan dua lokasi di Jakarta, yakni Ancol dan Ragunan. Uniknya, di antara seluruh peserta yang ikut terdapat sejumlah difabel.
"Di antara seratus peserta yang mengikuti pelatihan ini, kami juga menyertakan sepuluh pemuda yang memiliki cacat tubuh namun masih mampu menggunakan kedua tangannya," sebut GM Corporate Communications Telkomsel, Azis Fuedi dalam keterangan tertulis yang dikutip detikINET, Kamis (27/8/2009)
Pelatihan yang menitikberatkan pada pembekalan teknik dasar reparasi ponsel dan strategi bisnisnya ini, akan digelar selama dua minggu sejak 26 Agustus sampai 9 September dalam event Telkomsel Siaga 2009. Diharapkan, para pemuda terpilih ini dapat mengembangkan potensi diri dalam berwirausaha.
Aziz menjelaskan, materi pelatihan merupakan kombinasi dari teori dan praktik, mulai dari pengenalan komponen ponsel, peralatan reparasi, hingga simulasi berbagai kasus kerusakan ponsel dan cara penanganannya.
"Melalui metode pelatihan yang sistematik dan memadai ini, kami berharap semoga bisa menjadi bekal bagi para peserta sekaligus menciptakan peluang wirausaha," tandasnya.
( rou / faw )
Minggu, 26 Juli 2009
Krisis Tak Mampir di Elektronik
Barang Elektronik
Krisis Tak Mampir di Elektronik
Penjualan barang elektronik terus meningkat. Fokus pada peralatan yang cepat laku dan ramah lingkungan.
Masih pagi benar ketika Didik tiba di stan elektronik di lantai dua Carrefour Depok, Jawa Barat, Selasa pekan lalu. Pengunjung pasar modern itu belum banyak. Dia bolak-balik melihat televisi yang dipajang, dan menjatuhkan pilihan pada Toshiba Slim 21 inci. ”Tolong yang ini, Mas,” katanya kepada pramuniaga. Namun stok televisi seharga Rp 1,6 juta itu kosong. Dia beralih ke merek lain, Polytron, tapi sama saja. ”Habis juga, Mas. Belum tahu kapan akan dikirim lagi,” kata sang penjaga toko.
Apa boleh buat, Didik mungkin sedang tak beruntung di pasar modern itu. Penjualan barang elektronik memang kembali menanjak. Banyak barang yang tak lagi menyisakan stok alias ludes disikat pembeli. Alhasil, Didik sebetulnya tak sendiri. Banyak konsumen seperti dia yang mesti menunggu datangnya pasokan baru dari pabrik.
Menurut data Electronic Marketer Club, pada Juni lalu, total penjualan peralatan elektronik naik 2,7 persen menjadi 1,15 juta unit—dibanding 1,12 juta unit bulan sebelumnya. ”Dari pantauan kami, daya beli konsumen memang terus tumbuh,” kata Sekretaris Jenderal Electronic Marketer Club Agus Soejanto, di Jakarta, Rabu pekan lalu.
Agus lalu menunjukkan data penjualan semester pertama tahun ini. Nilainya mencapai Rp 9,39 triliun, naik enam persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Padahal total unit yang terjual malah turun 0,3 persen, cuma 6,38 juta. Ini karena harga jual naik sepanjang tahun ini, terlepas dari banyaknya diskon. ”Penjualan elektronik bisa dibilang stabil sejak krisis,” kata Agus.
Ini memang fenomena aneh. Sejak krisis mendunia pada triwulan ketiga tahun lalu, penjualan semua jenis barang rata-rata turun, bahkan banyak yang anjlok. Di otomotif, misalnya, penjualan tahun ini dibanding tahun lalu turun jauh. Di elektronik, tidak ada kata turun untuk item seperti penyejuk udara (AC), kulkas, atau pompa air. Hanya penjualan televisi dan audio yang naik-turun (lihat tabel).
Menurut Didi Raharja, Group Head Consumer Electronics Produk Marketing Samsung Indonesia, naik-turunnya penjualan televisi mungkin karena konsumen mulai beralih dari televisi tabung cembung ke layar datar, baik dalam format LCD maupun plasma. Tahun ini, Samsung melepas LCD baru yang lebih tipis dan hemat listrik meskipun lebih mahal. Sejauh ini, penjualannya tetap bagus. ”Terus naik sejak diluncurkan Mei lalu,” kata Didi.
Agus membenarkan. Produk baru dengan teknologi yang lebih baik, terutama yang ramah lingkungan, cepat diserap pasar, apalagi yang harganya agak miring. Misalnya AC irit listrik, mesin cuci hemat air, atau vacuum cleaner yang bisa didaur ulang. Bahkan, jika pun harganya mahal, terutama untuk merek ngetop, penyerapan pasarnya juga oke.
Meski demikian, strategi yang terasa paling menonjol, menurut Agus, banyak produsen elektronik yang berfokus pada barang cepat laku alias fast moving. ”Saat ini yang paling cepat dijual ya AC dan kulkas,” katanya. Terakhir, pada Juni lalu, penjualan refrigerator dan freezer mencapai lebih dari 243 ribu unit, naik 15,3 persen dari bulan lalu. Penjualan AC naik 8,8 persen menjadi sekitar 125 ribu unit pada Juni.
Fokus pada produk unggulan ini, menurut Lany Kurniawan, Manajer Marketing Electrolux Indonesia, juga mereka lakukan. ”Kami berfokus pada home appliance yang cocok untuk pasar Indonesia,” katanya. Mereka, misalnya, mendorong penjualan mesin cuci yang hemat air, hemat listrik, dan mencuci lebih cepat, atau kompor yang nyala apinya lebih besar. Mungkin karena target pasarnya kelas menengah ke atas, penjualan Electrolux terus naik.
Yang mungkin akan mengambil langkah berbeda adalah Panasonic. Merasa pasar kelas atas mulai jenuh, produsen elektronik asal Jepang itu telah melontarkan rencana untuk mulai memproduksi ”barang murah”, misalnya televisi LCD dengan harga di bawah sejuta rupiah.
Jika benar, inilah yang dinanti-nanti pembeli seperti Puti Noviyanda. Perempuan 25 tahun ini ditemui Tempo di Plaza Semanggi, Jakarta, Rabu pekan lalu. ”Saya ingin beli LCD yang harganya semurah-murahnya, ukurannya sebesar-besarnya,” katanya sembari terbahak. Sejauh ini, meski harganya turun terus, televisi layar datar tetap saja masih mahal. Toh, penjualannya tetap tinggi. Krisis agaknya tak pernah mampir di toko-toko elektronik.
Philipus Parera, Retno Sulistyowati, Munawwaroh
Pertumbuhan Penjualan Barang Elektronik (Semester I)
Data Electronics Marketer Club
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/07/20/EB/mbm.20090720.EB130899.id.html
Krisis Tak Mampir di Elektronik
Penjualan barang elektronik terus meningkat. Fokus pada peralatan yang cepat laku dan ramah lingkungan.
Masih pagi benar ketika Didik tiba di stan elektronik di lantai dua Carrefour Depok, Jawa Barat, Selasa pekan lalu. Pengunjung pasar modern itu belum banyak. Dia bolak-balik melihat televisi yang dipajang, dan menjatuhkan pilihan pada Toshiba Slim 21 inci. ”Tolong yang ini, Mas,” katanya kepada pramuniaga. Namun stok televisi seharga Rp 1,6 juta itu kosong. Dia beralih ke merek lain, Polytron, tapi sama saja. ”Habis juga, Mas. Belum tahu kapan akan dikirim lagi,” kata sang penjaga toko.
Apa boleh buat, Didik mungkin sedang tak beruntung di pasar modern itu. Penjualan barang elektronik memang kembali menanjak. Banyak barang yang tak lagi menyisakan stok alias ludes disikat pembeli. Alhasil, Didik sebetulnya tak sendiri. Banyak konsumen seperti dia yang mesti menunggu datangnya pasokan baru dari pabrik.
Menurut data Electronic Marketer Club, pada Juni lalu, total penjualan peralatan elektronik naik 2,7 persen menjadi 1,15 juta unit—dibanding 1,12 juta unit bulan sebelumnya. ”Dari pantauan kami, daya beli konsumen memang terus tumbuh,” kata Sekretaris Jenderal Electronic Marketer Club Agus Soejanto, di Jakarta, Rabu pekan lalu.
Agus lalu menunjukkan data penjualan semester pertama tahun ini. Nilainya mencapai Rp 9,39 triliun, naik enam persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Padahal total unit yang terjual malah turun 0,3 persen, cuma 6,38 juta. Ini karena harga jual naik sepanjang tahun ini, terlepas dari banyaknya diskon. ”Penjualan elektronik bisa dibilang stabil sejak krisis,” kata Agus.
Ini memang fenomena aneh. Sejak krisis mendunia pada triwulan ketiga tahun lalu, penjualan semua jenis barang rata-rata turun, bahkan banyak yang anjlok. Di otomotif, misalnya, penjualan tahun ini dibanding tahun lalu turun jauh. Di elektronik, tidak ada kata turun untuk item seperti penyejuk udara (AC), kulkas, atau pompa air. Hanya penjualan televisi dan audio yang naik-turun (lihat tabel).
Menurut Didi Raharja, Group Head Consumer Electronics Produk Marketing Samsung Indonesia, naik-turunnya penjualan televisi mungkin karena konsumen mulai beralih dari televisi tabung cembung ke layar datar, baik dalam format LCD maupun plasma. Tahun ini, Samsung melepas LCD baru yang lebih tipis dan hemat listrik meskipun lebih mahal. Sejauh ini, penjualannya tetap bagus. ”Terus naik sejak diluncurkan Mei lalu,” kata Didi.
Agus membenarkan. Produk baru dengan teknologi yang lebih baik, terutama yang ramah lingkungan, cepat diserap pasar, apalagi yang harganya agak miring. Misalnya AC irit listrik, mesin cuci hemat air, atau vacuum cleaner yang bisa didaur ulang. Bahkan, jika pun harganya mahal, terutama untuk merek ngetop, penyerapan pasarnya juga oke.
Meski demikian, strategi yang terasa paling menonjol, menurut Agus, banyak produsen elektronik yang berfokus pada barang cepat laku alias fast moving. ”Saat ini yang paling cepat dijual ya AC dan kulkas,” katanya. Terakhir, pada Juni lalu, penjualan refrigerator dan freezer mencapai lebih dari 243 ribu unit, naik 15,3 persen dari bulan lalu. Penjualan AC naik 8,8 persen menjadi sekitar 125 ribu unit pada Juni.
Fokus pada produk unggulan ini, menurut Lany Kurniawan, Manajer Marketing Electrolux Indonesia, juga mereka lakukan. ”Kami berfokus pada home appliance yang cocok untuk pasar Indonesia,” katanya. Mereka, misalnya, mendorong penjualan mesin cuci yang hemat air, hemat listrik, dan mencuci lebih cepat, atau kompor yang nyala apinya lebih besar. Mungkin karena target pasarnya kelas menengah ke atas, penjualan Electrolux terus naik.
Yang mungkin akan mengambil langkah berbeda adalah Panasonic. Merasa pasar kelas atas mulai jenuh, produsen elektronik asal Jepang itu telah melontarkan rencana untuk mulai memproduksi ”barang murah”, misalnya televisi LCD dengan harga di bawah sejuta rupiah.
Jika benar, inilah yang dinanti-nanti pembeli seperti Puti Noviyanda. Perempuan 25 tahun ini ditemui Tempo di Plaza Semanggi, Jakarta, Rabu pekan lalu. ”Saya ingin beli LCD yang harganya semurah-murahnya, ukurannya sebesar-besarnya,” katanya sembari terbahak. Sejauh ini, meski harganya turun terus, televisi layar datar tetap saja masih mahal. Toh, penjualannya tetap tinggi. Krisis agaknya tak pernah mampir di toko-toko elektronik.
Philipus Parera, Retno Sulistyowati, Munawwaroh
Pertumbuhan Penjualan Barang Elektronik (Semester I)
| Tahun 2008 | Tahun 2009 | |
| Televisi | 2.579.783 | 2.016.066 |
| Pemutar CD/DVD | 508.114 | 1.124.126 |
| Audio | 316.128 | 224.386 |
| Refrigerator & Freezer | 1.041.391 | 1.095.285 |
| Air Conditioner | 535.737 | 556.24 |
| Mesin Cuci | 550.428 | 602.719 |
| Pompa Air | 877.38 | 770.965 |
| Total | 6.408.961 | 6.389.787 |
| (- 0,3) | ||
| Nilai | 8.850.094 | 9.393.899 |
| (6,1) | ||
Data Electronics Marketer Club
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/07/20/EB/mbm.20090720.EB130899.id.html
Minggu, 12 Juli 2009
Divestasi Newmon 10 Persen untuk Pemda
Minggu, 12/07/2009 08:25 WIBAnak Usaha BUMI Jadi Partner Pemda NTB untuk Divestasi Newmont
Nurseffi Dwi Wahyuni - detikFinance
Tambang Batu Hijau NNT (dok detikcom)
Jakarta - Multicapital, anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) telah terpilih menjadi partner perusahaan daerah milik Pemda NTB dalam proses divestasi 10 persen saham Newmont (NNT) yang menjadi jatah Pemda.
"Dari enam perusahaan yang mengikuti beauty contest kami memilih Multicapital," ujar Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Nusa Tenggara Barat Heriadi Rahmat saat berbincang dengan detikFinance, Minggu (12/7/2009).
Menurut Heriadi, Multicapital dipilih karena perusahaan lokal dan sudah berpengalaman di bidang pertambangan.
"Kami nilai berdasarkan parameter-parameter. Dia terpilih karena ini perusahan lokal dan sudah memiliki pengalaman di tambang. Kami lihat juga kekuatan modal dan track record-nya dan tentu saja penawaran yang diajukan," papar Heriadi.
Setelah memilih partner, Heriadi menjelaskan dalam jangka waktu 15 hari ke depan, PT Daerah Maju Bersaing (perusahaan daerah milik pemda NTB) dan Multicapiltal akan membentuk suatu perusahaan baru.
"Dalam waktu 15 hari dari penandatanganan yang dilakukan kemarin, kami akan membentuk perusahaan gabungan dengan Multicapital," ungkapnya.
Dalam perusahaan yang baru tersebut, imbuh Heriadi, Pemda hanya akan memiliki saham 25 persen dan sisanya dimiliki anak usaha BUMI tersebut.
"Meskipun mereka mayoritas di perusahaan gabungan itu, namun 10 persen saham itu tetap milik Pemda," tandas Heriadi.
Mengenai harga 10 persen saham Newmont yang akan menjadi milik Pemda, Heriadi menjelaskan pihaknya akan terus bernegosiasi dengan Newmont. Saat ini harga divestasi saham Newmont tahun 2006 dan 2007 yang dulu pernah disepakati akan menjadi harga patokan yang digunakan Pemda.
"Kami akan terus negosiasi agar harganya bisa turun. Saat ini kami masih menggunakan harga yang dulu sebagai harga patokan," aku Heriadi.
Seperti diketahui, hasil putusan abitrase menyebutkan 3 persen saham Newmont pada tahun 2006 dan tujuh persen saham Newmont pada tahun 2007 menjadi milik Pemerintah daerah. Selain itu, telah disepakati pula divestasi 3% saham 2006 senilai US$ 109 juta, 7% saham 2007 senilai US$ 282 juta.
Adapun pembagian 10 persen saham kepemilikan saham tersebut terdiri dari empat persennya dimiliki Provinsi NTB, empat persen dimiliki Kabupaten Sumbawa Barat dan dua persen lagi menjadi milik Kabupaten Sumbawa. Pemda NTB juga telah membentuk PT Daerah Maju Bersaing yang akan mengelola 10 persen saham divestasi Newmont.
(epi/qom)
Sabtu, 11 Juli 2009
Biaya ekplorasi Antam Juni 2009
Minggu, 12/07/2009 11:30 WIBAntam Kucurkan Rp 4,8 Miliar untuk Eksplorasi Juni 2009
Alih Istik Wahyuni - detikFinance
Jakarta - PT Aneka Tambang Tbk (Antam) membelanjakan Rp 4,8 miliar sebagai biaya eksplorasi selama Juni 2009. Dana sebesar itu digunakan untuk mengeksplorasi 4 jenis komoditas yang menjadi fokus Antam.
"Kegiatan eksplorasi Antam berfokus pada nikel, emas, bauksit dan batubara," demikian disampaikan Sekretaris Perusahaan Antam Bimo Budi Satriyo dalam keterbukaan yang dikutip detikFinance, Minggu (12/7/2009).
Nikel
Untuk eksplorasi nikel dilakukan di daerah Maluku Utara dan Sulawesi Tenggara. Total biaya eksplorasinya mencapai Rp 1 miliar.
Emas
Kegiatan eksplorasi emas dilaksanakan di Aceh Tengah-NAD, Tapanuli Utara-Sumatera Utara, Batangasai-Jambi, Pongkor dan Papandayan–Jawa Barat, Ajibarang dan Tirtomoyo-Jawa Tengah, Wowoni dan Ranteangin-Sulawesi Tenggara dan Mao Batuisi-Sulawesi Barat. Total biaya eksplorasi emas mencapai Rp 3,3 miliar.
Bauksit
Eksplorasi bauksit dilaksanakan di daerah Kalimantan Barat yakni Mempawah, Tayan dan Munggu Pasir. Total biaya eksplorasi bauksit mencapai Rp 278,7 juta.
Batubara
Antam melakukan aktivitas pemeliharaan di Muara Tebo-Jambi dengan total biaya mencapai Rp 209,5 juta.
(lih/lih)
Oracle Akuisisi Sun

Selasa, 21/04/2009 08:24 WIB
Tolak IBM, Sun Terima Pinangan Oracle
Wicak Hidayat - detikinet
Jakarta - Sun Microsystems menolak pinangan IBM senilai USD 7 miliar. Tak lama, perusahaan di balik teknologi Java itu menerima pinangan Oracle dengan nilai USD 7.4 miliar.
Seperti dikutip detikINET dari keterangan resmi di situs Sun Microsystems, Selasa (21/4/2009), dua raksasa teknologi Oracle dan Sun telah resmi akan menjadi satu. Oracle akan mengambilalih saham Sun dengan nilai USD 9.50 per lembar dalam bentuk uang tunai.
Total transaksi pembelian Sun oleh Oracle adalah USD 7,4 miliar, lebih besar 0,4 miliar dari harga yang ditawarkan IBM beberapa waktu lalu. Nilai bersih transaksi Oracle adalah USD 5,6 miliar.
Dengan pembelian ini, Oracle melengkapi portofolionya dengan teknologi Java dan Solaris. Oracle Fusion Midleware yang dibangun di atas teknologi Java jelas akan mendapatkan 'suntikan' lewat akuisisi ini. Sedangkan Solaris adalah platform populer untuk database Oracle.
( wsh / wsh )
Selasa, 07 Juli 2009
AQUA Delisting

Aqua Siap Tinggalkan Bursa
Selasa, 7 Juli 2009 | 11:30 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — PT Aqua Golden Mississippi Tbk (AQUA) sudah mantap untuk meninggalkan bursa saham dan menjadi perusahaan tertutup (go private). Mereka sudah memilih PT Truscel Capital sebagai penilai independen. Truscel akan menghitung harga wajar saham perusahaan air minum kemasan itu.
Presiden Direktur Aqua Golden Mississippi Parmaningsih Hadinegoro mengungkapkan melalui pesan singkatnya kepada Kontan, Senin (6/7) kemarin, AQUA resmi menunjuk Truscel Capital pada Jumat (3/7) pekan lalu.
Senior Partner Truscel Capital Saiful M. Ruky mengakui sudah mendapatkan order itu dari AQUA, tetapi baru sebatas pemberitahuan secara lisan. "Sampai saat ini kami masih menunggu surat pernyataan resminya," tutur Saiful, kemarin.
Truscel Capital mengaku sudah bersiap menilai aset AQUA guna menentukan harga wajar saham perusahaan itu. Adapun jangka waktu penyelesaian penilaian tidak akan lebih dari enam minggu.
Saiful menambahkan, satu-satunya tugas Truscel hanyalah menilai harga wajar AQUA. Truscel hanya membantu menyuguhkan harga yang sesuai saat AQUA berniat membeli sisa saham yang masih berada di tangan publik melalui tender offer. "Namun masalah penentuan berapa harga tender offer-nya akan menjadi keputusan manajemen AQUA sendiri," katanya.
AQUA mencetuskan rencana keluar dari bursa saham secara sukarela (voluntary delisting) semenjak 2001, setelah Danone mengambil alih. Namun, rencana itu belum terlaksana. Awal Juni 2009 lalu, AQUA menghangatkan lagi rencana lama itu.
Menurut bisik-bisik di kalangan pelaku pasar, AQUA berniat go private lantaran perdagangan saham AQUA sudah mati suri alias tidak likuid. Saat ini, pemegang saham publik AQUA hanya tersisa 6,4 persen dari total saham perusahaan itu yang tercatat sebanyak 13,16 juta saham.
Pada akhir penutupan pasar kemarin, harga saham pemimpin pasar di industri air minum kemasan ini tercatat Rp 244.800 per saham. Harga tersebut, masih sama dengan harga penutupan AQUA pada perdagangan saham akhir pekan lalu, Jumat (3/7). (Yuwono Triatmodjo/Kontan)
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/07/07/11305936/aqua.siap.tinggalkan.bursa
Senin, 06 Juli 2009
Perubahan Segmen Pasar dan Transformasi Bisnis

Transformasi Bisnis Berbuah Eksis
Kamis, 11 Juni 2009
Oleh : Sudarmadi
Jagoan alat berat ini sukses meraih kinerja kinclong berkat keberanian dalam mentransformasi bisnis. Apa saja strategi dan perubahan internal yang dijalankannya?
“Willingness to change is a strength, even if it means plunging part of the company into total confusion for a while.” Pesan sekaligus prinsip manajemen yang dikemukakan Jack Welch itu tampaknya paralel dengan keyakinan yang dipegang erat segenap pemimpin PT United Tractors Tbk. (UT) dalam mengendalikan bisnis di saat arus persaingan alat berat semakin tak mudah dalam satu dekade terakhir.
Coba tengok, pada 1998, ketika krisis moneter, UT terkena dampak serius. Beban utang dalam jumlah besar memaksa manajemen merasionalisasi karyawan dan menjual sebagian aset perusahaan (anak usaha). Sebab-musababnya, sektor kontruksi yang sebelumnya jadi tulang punggung pemasaran alat berat UT mengalami crash.
Bukan rahasia lagi, ketika itu bisnis kontruksi mati suri. Otomatis, permintaan alat berat juga stagnan. Bayangkan, tahun 1996 UT bisa menjual 2.012 unit alat berat (43% pangsa pasar nasional), tetapi kemudian merosot menjadi 429 unit pada 1997 karena ambruknya sektor konstruksi. Tak mengherankan, perusahaan publik ini merugi Rp 727 miliar.
Namun, kala melihat kinerja hingga akhir 2008, cerita muram itu hanya tinggal kenangan. Lihat saja, penjualan alat berat mencapai 4.345 unit atau meningkat 26% dari 2007 yang baru 3.454 unit. Hal ini juga dibuktikan dari penjualan sepanjang 2008 yang meningkat 54% menjadi Rp 27,9 triliun – tahun 2007 baru Rp 18,2 triliun. Laba bersih perseroan pun cukup gemuk, mencapai Rp 2,7 triliun, tumbuh 78% dibanding tahun sebelumnya.
Dalam konteks pemasaran, pangsa pasar Komatsu berhasil dipertahankan hingga level 45%. "Tahun 2008 kinerja kami memang memecahkan rekor dan tertinggi dalam sejarah perusahaan ini berdiri," ungkap Djoko Pranoto, Presdir UT yang lebih dari 30 tahun berkarier di perusahaan alat berat ini. Kinerja positif itu berlanjut di awal 2009 ini, bahkan pangsa pasar UT diperkirakan sudah di atas 50%.
Bila didalami lebih lanjut, kinerja luar biasa itu tak lepas dari keberanian dan upaya transformasi yang dilakukan sejak satu dekade lalu yang pelaksanaannya semakin dipertajam sejak 2004. Transformasi dilakukan dengan menggeser portofolio bisnis dari yang semula mengandalkan sektor kontruksi ke sektor pertambangan, khususnya industri batu bara. Maklum, industri ini sejak 2004 tumbuh signifikan dibanding industri lain (lihat Grafik). "Kami fokus ke sektor mining karena di sana alat berat yang dibutuhkan biasanya besar-besar. Otomatis harga dan nilai proyek investasi juga lebih besar. Contohnya harga dump truck yang 100 ton, itu harganya bisa setara dengan 8 kali harga escavator yang kelas 20 ton," Djoko memberi alasan.
Pergeseran pilihan industri yang dilayani itu kemudian diikuti dengan tranformasi strategi bisnis UT. "Dulu kami menyebut perusahaan kami sebagai customer driven company dan kuat terhadap product sales. Sekarang ke arah product support dan konsentrasi penuh ke solution driven," kata Djoko. Orientasi perusahaan lebih dikembangkan ke solusi total bagi pelanggan. Jadi, UT diposisikan sebagai solution driven company.
Tak dimungkiri, transformasi strategi itu juga dilakukan karena perusahaan pelanggan UT di sektor pertambangan rata-rata lebih demanding dibanding pelanggan di sektor logging (Hak Pengusahaan Hutan/Hutan Tanaman Industri), kontruksi ataupun agro sehingga UT juga harus menyesuaikan diri agar bisa memaksimalkan kepuasan pelanggannya. Pelanggan pertambangan -- 80% dari total pelanggan UT -- rata-rata tidak hanya membicarakan transaksional, tetapi lebih banyak membicarakan ”Apakah Anda memberi dukungan sehingga ketika kami ada masalah Anda memberi solusi?”
Apalagi kenyataannya, pelanggan alat berat sektor pertambangan mengeluarkan uang yang tak sedikit dalam investasi. Kini, untuk memproduksi 1 juta ton batu bara setidaknya butuh investasi US$ 15 juta sehingga bila ada pelanggan yang punya target produksi 5 juta ton setahun, dia harus mengeluarkan US$ 75 juta, termasuk sebagian besar untuk membeli alat berat ke UT. Karena investasinya yang mahal, mereka harus bisa memastikan investasinya bisa kembali sehingga UT pun harus memuaskan dan mampu memberi solusi ke mereka.
Yang lebih penting diketahui, transformasi yang dilakukan di UT ternyata bukan sekadar di permukaan. Tidak selesai hanya dengan mengatakan kini lebih fokus ke sektor pertambangan, ternyata pilihan arah bisnis baru itu diimbangi dengan perubahan strategi organisasi dan manajemen internal. Singkatnya, pergeseran arah bisnis itu diikuti keberanian melakukan transformasi diri. "Kami lakukan transformasi baik pada people, process maupun infrastructure," ungkap Djoko.
Dari sisi proses bisnis, UT mengubah cara dalam mendekati pelanggan, dari yang semula jualan (selling) unit alat berat menjadi memberikan solusi total. "Dulu jualan hanya dengan memberi feature product, menjelaskan product knowledge atau memberi leaflet, sekarang sampai titik memberi total solution," ujar Djoko. UT yang sekarang lebih total dalam memikirkan pelanggan, seperti bagaimana pelanggan memulai bisnisnya di lokasi tambang, mencarikan mitra bisnis (matchmaking), serta menyediakan mekanik dan operator alat beratnya. Otomatis, dulu yang ditawarkan lebih ke produk (product offering), sekarang bergeser ke pemberian solusi.
Ketika UT jualan ban buat kendaraan alat berat, misalnya, pendekatannya bukan sekadar menjual ban, tapi sudah menjadi tire management solution. “Bahkan bila memungkinkan, pelanggan tak perlu punya stok ban sendiri. Jadi, tidak harus membeli dan membayar uang dalam jumlah besar di muka – cukup menyewa alias membayar sekian dolar per km (cost/km). Pihak UT yang kemudian mengelola ban tersebut,” papar Paulus Bambang W., Wapresdir UT.
Demikian pula ketika UT berjualan baterai alat berat, maka diarahkan menjadi battery management yang mengurusi dari proses delivery barang hingga penampungan limbah baterai itu. Di salah satu pelanggannya, perusahaan pertambangan besar di Papua, pola ini juga diterapkan. UT bahkan membantu menjualkan aki bekas (disposal) sehingga perusahaan tambang itu tak repot memikirkan di mana akan membuang limbah, tetapi justru mendapatkan uang. Cara-cara baru seperti itu tentu saja lebih solutif bagi pelanggan. Di sisi lain, hal itu juga merupakan jurus tersendiri bagi UT guna menghindar dari jebakan perang harga murah yang biasa terjadi di industri ini yang kalau diikuti akan merugikan posisinya.
Perubahan mendasar pun dilakukan dari sisi orangnya (people). Misalnya, dulu tenaga penjualan lebih ditugaskan sebagai salesman. Tugasnya tentu saja menjual, menjual dan menjual. Namun seiring dengan pergeseran bisnis, mereka ditiadakan karena diubah menjadi konsultan. Jadi, yang dibentuk bukan salesman, melainkan business consultant. Ia tidak sekadar menjual, tetapi juga memberi informasi solusi layaknya seorang konsultan kepada kliennya. Perubahan ini tak main-main. "Bahkan kami adakan acara ramai-ramai bakar kartu nama yang lama secara bersama-sama. Kalau dulu di kartu nama tertulis jabatan sales force, kemudian diganti menjadi business consultant," ujar Paulus mengenang.
Jajaran mekanik di lapangan juga tak luput dari transformasi. Awalnya tugas mereka hanya memperbaiki alat-alat berat yang rusak dan memelihara alat berat yang masih bagus, kemudian diubah menjadi memelihara dan mengembangkan. "Harus maintain dan improve supaya hasilnya bagus. Kalau sebelumnya alat bisa menghasilkan kerja 10 ton/jam, kemudian juga memikirkan bagaimana supaya bisa menghasilkan 11 ton/jam. Selain itu, juga memikirkan bagaimana efisiensi kebutuhan bahan bakar. Jadi, mereka mikir untuk pengembangan," kata Paulus. Adapun para operator alat berat di lapangan, tugas mereka bukan semata-mata mengoperasikan alat, melainkan sudah memikirkan hasil kerja (produce result). "Jadi, kami memang mentransformasi orang," Paulus menegaskan.
Tentu saja, berbagai perubahan itu diikuti pula penambahan pada sisi infrastruktur. Artinya, transformasi yang terjadi memang difasilitasi betul oleh perusahaan. "Kami juga membenahi infrastruktur, termasuk metodenya," kata Djoko. Sebut contoh, pada masa-masa sebelumnya di UT hanya dikenal punya kantor cabang (di kota besar) dan kantor perwakilan (di kota kecil), tetapi dengan tranformasi itu, didirikan unit job site facilites di berbagai lokasi tambang. "Job site facilities itu setara dengan kantor cabang, namun investasinya jauh lebih besar. Ruang workshop-nya jauh lebih besar dengan peralatan yang lebih lengkap, harus ada gudang dan orang-orang yang ditempatkan."
Demikian juga dari sisi TI. Sistem TI yang terintegrasi saja tidak cukup, melainkan dikolaborasikan dengan pelanggan. Tak mengherankan, sekarang UT mempersenjatai diri dengan berbagai keunggulan TI. Sistem TI-nya bergeser dari desk base ke arah solusi yang mudah diakses di lapangan (mobile application). Contohnya, UT menerapkan vehicle management system untuk pengelolaan armada alat berat dan angkutan (dump truck, dll.).
Dengan adanya vehicle management system, kalau ada kendaraan rusak atau kurang bahan bakar di lapangan, bisa langsung diketahui karena setiap kendaraan dihubungkan dengan sistem. Lalu, kendaraan sedang dipakai untuk bekerja ataukah tidak pada jam tertentu akan mudah diketahui dari kantor pusat. Termasuk kalau dari bagian leasing diinformasikan ada pelanggan yang belum bayar, bisa tinggal pencet dari tombol komputer di kantor pusat untuk memberi peringatan agar kendaraan berhenti beroperasi.
Cara itu dilakukan karena melayani sektor pertambangan memang butuh pendekatan berbeda. Ketika di bisnis kontruksi, masih bisa mengatakan: akan melayani besok pagi karena sekarang pukul 17.00 dan kantor sudah tutup. Namun, untuk pelanggan sektor pertambangan, cara seperti itu tidak bisa dilakukan. "Di bisnis batu bara proses menambang berlangsung 24 jam dan setiap menggali tambang berarti uang," kata Paulus.
Yang juga menarik, dari sisi pengembangan SDM, perusahaan tak serta-merta menuntut karyawannya bertransformasi, misalnya agar tenaga penjualan berubah menjadi konsultan bisnis, dll. UT memfasilitasi berbagai kegiatan pengembangan diri. Disediakan lembaga pelatihan yang diarahkan menjadi learning center. Karyawan yang dimasukkan ke UT Learning Center dikembangkan hard skill plus soft skill-nya, serta diarahkan menjadi manajer yang punya jiwa kewirausahaan tinggi agar bisa menciptakan dan mengembangkan bisnis-bisnis di lingkup UT.
Berbagai perubahan itu diharapkan bermuara pada pelanggan dan mereka rasakan langsung. “Intinya, kami ingin menghadirkan the lowest lifetime cost per total output dari proses produksi pada pelanggan kami,” ujar Djoko. Dalam pandangannya, di bisnis alat berat yang menyasar sektor tambang seperti yang digeluti UT, satu-satunya cara berpromosi yang efektif adalah dengan mendekati langsung pelanggan lalu menawarkan solusi terbaik.
Nila Irjani, karyawan yang juga Head of Corporate Planning UT, merasakan perusahaannya memang sungguh-sungguh dalam bertransformasi menjadi solution driven company. "Mulai dari visi, kemudian deploy-nya secara organisasi juga sungguh-sungguh dipikirkan. Kami men-setting arahan strategi untuk masing-masing divisi, pekerjaan masing-masing divisi apa, organisasi yang dibutuhkan seperti apa untuk tranformasi itu. Perusahaan juga membuat learning center. Semua diarahkan ke solution driven tersebut," ujar Nila yang sebelumnya menekuni bidang TI.
Salah satu kesungguhan UT juga tampak dari dibentuknya divisi perencanaan korporat yang dikepalai Nila. "Divisi ini juga dibentuk dalam rangka transformasi, untuk memastikan proses tranformasi dari atas ke bawah bisa alligment. Kami percaya kalau segala sesuatunya by design dan terus di-review, jalannya lebih terkontrol. Nggak seperti orang buta berjalan. Yang penting, kami terus konsisten," ungkap Nila.
Yang pasti, kinerja UT di awal 2009 tetap kinclong. "Kuartal pertama tahun ini diharapkan market share kami sudah di atas 50% dibanding tahun lalu sekitar 48%. Kondisi keuangan kami sehat sekali. Tidak ada tidak utang. Inventori bisa kami kontrol. Kami ingin menunjukkan bahwa apa yang selama ini (dijalankan) memang benar-benar menghasilkan," kata Djoko penuh optimisme.
Apakah berarti tidak ada kendala dan gejolak dalam proses transformasi di UT?
"Secara garis besar nggak ada gejolak. Tapi yang namanya perubahan di mana pun pasti menimbulkan kekurangnyamanan pada sebagian orang yang merasa sudah mentok," ungkap Djoko. Namun, ia menambahkan, sesungguhnya yang terpenting ialah bagaimana melakukan perubahan itu sendiri. "Kami tidak dengan cara hari ini buat konsep dan besok langsung dijalankan. Kami lakukan proses sosialisasi dulu, dijelaskan kenapa harus berubah dan akan dibawa ke mana. Kalau hati mereka sudah dibuka dan jelas, maka mau dibawa ke mana saja biasanya tidak menolak. Orang UT cenderung sangat fleksibel walau organisasi sudah tua karena sudah dari 1973," papar Djoko.
Lebih dari itu, transparansi dan keterbukaan sudah dibiasakan di lingkungan UT sejak awal. Dengan cara itu, karyawan akan memberikan pandangan secara objektif bila ada masukan yang ingin disampaikan. "UT satu-satunya perusahaan di Grup Astra yang menerapkan sistem whistle blower," Djoko menunjuk. Jadi, tiap karyawan dipersilakan menyuarakan unek-uneknya melalui surat bila ada ketidakberesan, dan identitas si pelapor dilindungi. "Daripada mereka membuat surat kaleng, lebih baik kami wadahi. Dia boleh melaporkan hal yang dialaminya dan dilindungi. Itu jarang lho perusahaan yang melakukan. Jadi, tidak asal ngomong GCG tapi praktiknya jauh dari kenyataan," kata Djoko kembali.
Proses bisnis terus berjalan dan tantangan baru terus muncul. Seperti dalam setengah tahun terakhir, dunia mulai dicemaskan krisis global. Isu krisis global mau tak mau juga mesti dihadapi UT. Menanggapi dampak krisis global, manajemen UT tampaknya optimistis dalam menyikapi. "Untungnya tahun 2007 dan 2008, UT tidak jorjoran dengan nambah orang dan invest di sana-sini. Makanya, sekarang tidak berkeinginan mengurangi karyawan. Tiga bulan pertama 2009 ini menunjukkan apa yang ditakutkan di akhir tahun lalu tidak separah yang dibayangkan," ungkap Djoko. Kuartal I/2009 ini revenue-nya naik 30% dibanding kuartal I/2008 walaupun volume turun.
Lebih dari itu, rupanya UT juga sudah menyiapkan strategi lanjutannya (next level). Persisnya dalam dua tahun terakhir perusahaan ini punya banyak bisnis baru yang mulai jalan. Tahun lalu sudah memulai bisnis rental melalui PT Multi Prima Universal. "Makanya begitu penjualan unit alat berat baru turun seperti sekarang, bisnis jasa rentalnya justru naik luar biasa. Dalam tiga bulan ini naik sangat fantastis," kata Paulus. Usaha rental ini dulunya di UT hanya berupa divisi, tetapi sudah setahun ini dijadikan perusahaan tersendiri.
UT pun telah memperkuat diri dengan merestrukturisasi anak usaha. UT ingin konsentrasi di mesin alat berat yang besar (Komatsu), maka alat yang kecil-kecil yang melayani agroforestry dll. kemudian diserahkan ke anak usaha UT, PT Bina Pertiwi (BP). Contohnya, bisnis forklift dan genset. Bahkan, BP sekarang juga mengerjakan bisnis telekomunikasi untuk agro (membuat menara). "Tim di anak usaha ini baru saja direstrukturisasi dan Pak Djoko sudah mengirimkan orang-orang terbaik UT untuk merestrukturisasi BP. Orang eks UT dikirimkan ke sana. Antara lain, ada orang TI di UT disuruh jadi marketing di BP, lalu direkturnya diangkat dari kepala cabang Surabaya," Paulus memaparkan.
Tak berhenti di situ. Tak lama lagi UT akan meluncurkan bisnis baru bidang pengangkutan batu bara (Patria Maritim Line), lalu perusahaan logistik untuk mengangkut alat berat dan suku cadangnya dari Jakarta ke tujuan mana saja (PT Harmony Mitra Utama). Juga, punya PT Tuah Turangga Agung yang mengakuisisi konsesi tambang batu bara. UT juga punya tambang batu bara dengan cadangan 40 juta ton yang segera akan dieksplorasi. Konsesi tambang ini dibeli dari dana hasil right issue ketiga, persis seminggu sebelum krisis terjadi (catatan: dari right issue UT mendapatkan tambahan modal Rp 3,6 triliun dari pemilik modal yang sudah ada). "Kami ingin punya keuntungan bisnis di value chain. Jadi mulai dari punya konsesinya, punya contracting, punya transportasinya. UT sekarang diposisikan sebagai AHEME (Astra Heavy Equipment Industry, Mining dan Energy),” ujar Djoko.
Widjaja Kartika, GM Divisi Suku Cadang UT, membenarkan perusahaannya telah bertransformasi menjadi solution driven company. Menghadapi krisis global, Widjaja optimistis. “Penjualan unit baru mungkin menurun, tapi kami yang di product support seperti bisnis suku cadang dan servis justru optimistis karena yang kami tanam tiga tahun lalu justru sekarang berbuah. Maka, target kami justru meningkat di tahun ini. Itu yang menurut kami lebih baik karena berarti bisnis kami sustain," tuturnya.
Lilik Agung, pemerhati bidang manajemen yang juga Mitra Pengelola High Leap Consulting, melihat perpindahan dari sektor konstruksi ke sektor mining menunjukkan kejelian manajemen UT dalam memandang arah bisnis. Apalagi, sektor pertambangan di Indonesia dan dunia pada waktu itu mengalami booming luar biasa, sementara sektor konstruksi nyaris jalan di tempat. Ada dua hal yang menurut Lilik menjadi alasan UT memutar haluan bisnisnya. “Pertama, memang bisnis mining sedang tumbuh luar biasa dan berjangka panjang. Kedua, untuk mempertahankan dominasinya dalam bisnis alat berat."
Dalam pengamatan Lilik, alat berat merek Komatsu yang dijual UT menjadi penguasa pasar hanya di sedikit negara. Salah satunya, Indonesia. "Pada mayoritas negara lain Komatsu selalu di bawah Caterpillar. Jika UT tetap pada pilihannya melayani sektor konstruksi, dapat dipastikan UT akan dikalahkan Trakindo (Caterpillar) yang memang sangat kuat di sektor mining." katanya.
Lilik memprediksi, peluang sukses transformasi UT sangat tinggi melihat rekam jejak yang luar biasa dalam menjadikan Komatsu sebagai nomor satu di Indonesia. Menurutnya, ada empat alasan yang mendasari keberhasilan. Yaitu, karyawan yang mudah menyesuaikan diri dengan perubahan internal dan eksternal, sistem rekrutmen, pengembangan, jenjang karier, dan kompensasi di UT yang sudah sangat bagus, infrastruktur yang dimilikinya (perkakas manajemen modern – misalnya, Balanced ScoreCard, Six Sigma, dan sistem TI) telah memadai, budaya perusahaan sudah tertanam kuat, serta pertumbuhan dari bisnis pertambangan masih akan menjanjikan. "Imbas krisis global memang berpengaruh, namun pada jangka relatif pendek. Seiring dengan membaiknya perekonomian global, keperkasaan bisnis mining akan kembali ke posisi semula. Sementara UT sudah siap karena memutuskan masuk ke bisnis ini," kata Lilik. ***
URL : http://www.swa.co.id/swamajalah/praktik/details.php?cid=1&id=9320
Langganan:
Postingan (Atom)