Selasa, 07 Juli 2009

AQUA Delisting


Aqua Siap Tinggalkan Bursa


Selasa, 7 Juli 2009 | 11:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — PT Aqua Golden Mississippi Tbk (AQUA) sudah mantap untuk meninggalkan bursa saham dan menjadi perusahaan tertutup (go private). Mereka sudah memilih PT Truscel Capital sebagai penilai independen. Truscel akan menghitung harga wajar saham perusahaan air minum kemasan itu.

Presiden Direktur Aqua Golden Mississippi Parmaningsih Hadinegoro mengungkapkan melalui pesan singkatnya kepada Kontan, Senin (6/7) kemarin, AQUA resmi menunjuk Truscel Capital pada Jumat (3/7) pekan lalu.

Senior Partner Truscel Capital Saiful M. Ruky mengakui sudah mendapatkan order itu dari AQUA, tetapi baru sebatas pemberitahuan secara lisan. "Sampai saat ini kami masih menunggu surat pernyataan resminya," tutur Saiful, kemarin.

Truscel Capital mengaku sudah bersiap menilai aset AQUA guna menentukan harga wajar saham perusahaan itu. Adapun jangka waktu penyelesaian penilaian tidak akan lebih dari enam minggu.

Saiful menambahkan, satu-satunya tugas Truscel hanyalah menilai harga wajar AQUA. Truscel hanya membantu menyuguhkan harga yang sesuai saat AQUA berniat membeli sisa saham yang masih berada di tangan publik melalui tender offer. "Namun masalah penentuan berapa harga tender offer-nya akan menjadi keputusan manajemen AQUA sendiri," katanya.

AQUA mencetuskan rencana keluar dari bursa saham secara sukarela (voluntary delisting) semenjak 2001, setelah Danone mengambil alih. Namun, rencana itu belum terlaksana. Awal Juni 2009 lalu, AQUA menghangatkan lagi rencana lama itu.

Menurut bisik-bisik di kalangan pelaku pasar, AQUA berniat go private lantaran perdagangan saham AQUA sudah mati suri alias tidak likuid. Saat ini, pemegang saham publik AQUA hanya tersisa 6,4 persen dari total saham perusahaan itu yang tercatat sebanyak 13,16 juta saham.

Pada akhir penutupan pasar kemarin, harga saham pemimpin pasar di industri air minum kemasan ini tercatat Rp 244.800 per saham. Harga tersebut, masih sama dengan harga penutupan AQUA pada perdagangan saham akhir pekan lalu, Jumat (3/7). (Yuwono Triatmodjo/Kontan)

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/07/07/11305936/aqua.siap.tinggalkan.bursa

Senin, 06 Juli 2009

Ekspor kopi 2009 diperkirakan turun


Waduh... Ekspor Kopi Anjlok 40 Persen

KOMPAS/HELENA F NABABAN


Selasa, 7 Juli 2009 | 11:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Nilai ekspor kopi di Indonesia tahun 2009 diperkirakan mengalami penurunan hingga 40 persen dibandingkan tahun lalu.

Sekretaris Eksekutif Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Rachim Kartabrata di Jakarta, Selasa, mengatakan, pada tahun 2008 nilai ekspor kopi mencapai 900 juta dollar AS, tetapi kini menjadi sekitar 630 juta dollar AS atau turun hingga 40 persen.

Ia menjelaskan, turunnya nilai ekspor kopi Indonesia tahun ini dikarenakan krisis keuangan dunia dan telah membuat harga kopi Indonesia di pasar internasional anjlok. "Harga kopi anjlok sejak tanggal 1 Oktober 2008 silam dan saat ini harga kopi robusta turun dari 2,2 dollar AS menjadi 1,1 dollar per kg. Untuk jenis arabika turun dari 2,8 dollar menjadi 2,3 dollar," katanya.

Ia mengatakan, turunnya harga kopi dikarenakan buruknya cuaca di daerah sentra penghasil kopi sehingga kualitas produksi kopi dari daerah cenderung turun.

Ia menjelaskan, turunnya harga kopi juga dipengaruhi oleh tiga faktor, antara lain faktor fundamental, yaitu kondisi fisik biji kopi yang ditawarkan, faktor sentimen pasar, yaitu hasil panen turun akibat bencana atau cuaca buruk, dan faktor dari dua terminal di London dan New York, yaitu para pemain bursa komoditas di pasar internasional.

Sementara itu, volume produksi kopi pada tahun ini juga mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. "Tahun 2008 volume kopi Indonesia mencapai 420.000 ton, kini tahun 2009 turun 20 persen menjadi 350.000 ton dengan 80 persennya kopi robusta dan sisanya kopi arabika," ujarnya.

Ia menambahkan, negara potensial untuk pasar kopi robusta masih didominasi kawasan Eropa Barat, Jepang, Eropa Timur, dan Amerika, sedangkan untuk jenis kopi arabika negara potensial didominasi oleh Amerika dan Jepang.

"Secara global peminum kopi kebanyakan dari jenis arabika yang persentasenya mencapai 70 persen berbanding 30 persen dengan kopi robusta," sebutnya.

Dia menjelaskan, kopi arabika memiliki cita rasa dan aroma yang selalu lebih unggul dibandingkan kopi robusta. Karena itu, katanya, kopi robusta hanya sebagai pelengkap pasar.

AEKI mengimbau kepada pemerintah agar lebih memberi perhatian pada sektor riil bukan ke moneter dengan membuat langkah-langkah untuk memperbaiki harga kopi.

EDJ
Sumber : Ant

Bisnis Dunia Mungkin Merugi


Pendapatan Perusahaan Dunia Diprediksi Jeblok

Senin, 6 Juli 2009 | 14:06 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com — Pendapatan di sejumlah perusahaan dunia diprediksi akan terus mengalami penurunan dalam tiga bulan ke depan. Kondisi ini terjadi seiring dengan tingginya angka pengangguran sehingga menyebabkan terpangkasnya anggaran belanja konsumen.

Berdasarkan data yang dihimpun dari S&P dan Bloomberg, laba per tahun perusahaan-perusahaan yang menjadi anggota Standard & Poor’s 500 Index akan mengalami penurunan hingga 21 persen dari Juli hingga September. Meski demikian, jumlah pendapatan baru akan mengalami peningkatan pada akhir tahun ini.

Menurut para analis dan investor, para konsumen di AS tetap mengkhawatirkan mengenai mata pencaharian setelah tingkat pengangguran menyentuh level tertinggi dalam 26 tahun terakhir pada Juni lalu. “Selama tingkat pengangguran masih tinggi, konsumen akan tetap konservatif,” kata Walter Hellwig, Analyst Morgan Asset Management di Alabama.

Asal tahu saja, tingkat kepercayaan konsumen AS pada Juni lalu mengalami penurunan. Hal itu merefleksikan tingkat pengangguran di Negeri Paman Sam itu kian membengkak yang mencapai level 9,5 persen pada bulan Juni. Kondisi tersebut kian diperparah dengan kian rendahnya nilai properti.

Pada bulan lalu, perusahaan-perusahaan di AS memangkas sekitar 467.000 pekerja. Dengan demikian, sejak resesi dimulai pada Desember 2007 lalu, sekitar 6 juta orang sudah kehilangan mata pencahariannya.

Sekadar tambahan saja, data Bloomberg juga menunjukkan, sekitar 67 persen pendapatan dari anggota S&P 500 berhasil melampaui estimasi para analis pada kuartal pertama setelah mengeliminasi pekerja dan menutup pabriknya. Kondisi itu turut mendongkrak S&P 500 Index mengalami reli sebesar 15 persen pada kuartal kedua, yang merupakan angka tertinggi sejak 1998. (Barratut Taqiyyah/Kontan)

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/07/06/14065978/pendapatan.perusahaan.dunia.diprediksi.jeblok

Perubahan Segmen Pasar dan Transformasi Bisnis


Transformasi Bisnis Berbuah Eksis
Kamis, 11 Juni 2009
Oleh : Sudarmadi

Jagoan alat berat ini sukses meraih kinerja kinclong berkat keberanian dalam mentransformasi bisnis. Apa saja strategi dan perubahan internal yang dijalankannya?

“Willingness to change is a strength, even if it means plunging part of the company into total confusion for a while.” Pesan sekaligus prinsip manajemen yang dikemukakan Jack Welch itu tampaknya paralel dengan keyakinan yang dipegang erat segenap pemimpin PT United Tractors Tbk. (UT) dalam mengendalikan bisnis di saat arus persaingan alat berat semakin tak mudah dalam satu dekade terakhir.

Coba tengok, pada 1998, ketika krisis moneter, UT terkena dampak serius. Beban utang dalam jumlah besar memaksa manajemen merasionalisasi karyawan dan menjual sebagian aset perusahaan (anak usaha). Sebab-musababnya, sektor kontruksi yang sebelumnya jadi tulang punggung pemasaran alat berat UT mengalami crash.

Bukan rahasia lagi, ketika itu bisnis kontruksi mati suri. Otomatis, permintaan alat berat juga stagnan. Bayangkan, tahun 1996 UT bisa menjual 2.012 unit alat berat (43% pangsa pasar nasional), tetapi kemudian merosot menjadi 429 unit pada 1997 karena ambruknya sektor konstruksi. Tak mengherankan, perusahaan publik ini merugi Rp 727 miliar.

Namun, kala melihat kinerja hingga akhir 2008, cerita muram itu hanya tinggal kenangan. Lihat saja, penjualan alat berat mencapai 4.345 unit atau meningkat 26% dari 2007 yang baru 3.454 unit. Hal ini juga dibuktikan dari penjualan sepanjang 2008 yang meningkat 54% menjadi Rp 27,9 triliun – tahun 2007 baru Rp 18,2 triliun. Laba bersih perseroan pun cukup gemuk, mencapai Rp 2,7 triliun, tumbuh 78% dibanding tahun sebelumnya.

Dalam konteks pemasaran, pangsa pasar Komatsu berhasil dipertahankan hingga level 45%. "Tahun 2008 kinerja kami memang memecahkan rekor dan tertinggi dalam sejarah perusahaan ini berdiri," ungkap Djoko Pranoto, Presdir UT yang lebih dari 30 tahun berkarier di perusahaan alat berat ini. Kinerja positif itu berlanjut di awal 2009 ini, bahkan pangsa pasar UT diperkirakan sudah di atas 50%.

Bila didalami lebih lanjut, kinerja luar biasa itu tak lepas dari keberanian dan upaya transformasi yang dilakukan sejak satu dekade lalu yang pelaksanaannya semakin dipertajam sejak 2004. Transformasi dilakukan dengan menggeser portofolio bisnis dari yang semula mengandalkan sektor kontruksi ke sektor pertambangan, khususnya industri batu bara. Maklum, industri ini sejak 2004 tumbuh signifikan dibanding industri lain (lihat Grafik). "Kami fokus ke sektor mining karena di sana alat berat yang dibutuhkan biasanya besar-besar. Otomatis harga dan nilai proyek investasi juga lebih besar. Contohnya harga dump truck yang 100 ton, itu harganya bisa setara dengan 8 kali harga escavator yang kelas 20 ton," Djoko memberi alasan.

Pergeseran pilihan industri yang dilayani itu kemudian diikuti dengan tranformasi strategi bisnis UT. "Dulu kami menyebut perusahaan kami sebagai customer driven company dan kuat terhadap product sales. Sekarang ke arah product support dan konsentrasi penuh ke solution driven," kata Djoko. Orientasi perusahaan lebih dikembangkan ke solusi total bagi pelanggan. Jadi, UT diposisikan sebagai solution driven company.

Tak dimungkiri, transformasi strategi itu juga dilakukan karena perusahaan pelanggan UT di sektor pertambangan rata-rata lebih demanding dibanding pelanggan di sektor logging (Hak Pengusahaan Hutan/Hutan Tanaman Industri), kontruksi ataupun agro sehingga UT juga harus menyesuaikan diri agar bisa memaksimalkan kepuasan pelanggannya. Pelanggan pertambangan -- 80% dari total pelanggan UT -- rata-rata tidak hanya membicarakan transaksional, tetapi lebih banyak membicarakan ”Apakah Anda memberi dukungan sehingga ketika kami ada masalah Anda memberi solusi?”

Apalagi kenyataannya, pelanggan alat berat sektor pertambangan mengeluarkan uang yang tak sedikit dalam investasi. Kini, untuk memproduksi 1 juta ton batu bara setidaknya butuh investasi US$ 15 juta sehingga bila ada pelanggan yang punya target produksi 5 juta ton setahun, dia harus mengeluarkan US$ 75 juta, termasuk sebagian besar untuk membeli alat berat ke UT. Karena investasinya yang mahal, mereka harus bisa memastikan investasinya bisa kembali sehingga UT pun harus memuaskan dan mampu memberi solusi ke mereka.

Yang lebih penting diketahui, transformasi yang dilakukan di UT ternyata bukan sekadar di permukaan. Tidak selesai hanya dengan mengatakan kini lebih fokus ke sektor pertambangan, ternyata pilihan arah bisnis baru itu diimbangi dengan perubahan strategi organisasi dan manajemen internal. Singkatnya, pergeseran arah bisnis itu diikuti keberanian melakukan transformasi diri. "Kami lakukan transformasi baik pada people, process maupun infrastructure," ungkap Djoko.

Dari sisi proses bisnis, UT mengubah cara dalam mendekati pelanggan, dari yang semula jualan (selling) unit alat berat menjadi memberikan solusi total. "Dulu jualan hanya dengan memberi feature product, menjelaskan product knowledge atau memberi leaflet, sekarang sampai titik memberi total solution," ujar Djoko. UT yang sekarang lebih total dalam memikirkan pelanggan, seperti bagaimana pelanggan memulai bisnisnya di lokasi tambang, mencarikan mitra bisnis (matchmaking), serta menyediakan mekanik dan operator alat beratnya. Otomatis, dulu yang ditawarkan lebih ke produk (product offering), sekarang bergeser ke pemberian solusi.

Ketika UT jualan ban buat kendaraan alat berat, misalnya, pendekatannya bukan sekadar menjual ban, tapi sudah menjadi tire management solution. “Bahkan bila memungkinkan, pelanggan tak perlu punya stok ban sendiri. Jadi, tidak harus membeli dan membayar uang dalam jumlah besar di muka – cukup menyewa alias membayar sekian dolar per km (cost/km). Pihak UT yang kemudian mengelola ban tersebut,” papar Paulus Bambang W., Wapresdir UT.

Demikian pula ketika UT berjualan baterai alat berat, maka diarahkan menjadi battery management yang mengurusi dari proses delivery barang hingga penampungan limbah baterai itu. Di salah satu pelanggannya, perusahaan pertambangan besar di Papua, pola ini juga diterapkan. UT bahkan membantu menjualkan aki bekas (disposal) sehingga perusahaan tambang itu tak repot memikirkan di mana akan membuang limbah, tetapi justru mendapatkan uang. Cara-cara baru seperti itu tentu saja lebih solutif bagi pelanggan. Di sisi lain, hal itu juga merupakan jurus tersendiri bagi UT guna menghindar dari jebakan perang harga murah yang biasa terjadi di industri ini yang kalau diikuti akan merugikan posisinya.

Perubahan mendasar pun dilakukan dari sisi orangnya (people). Misalnya, dulu tenaga penjualan lebih ditugaskan sebagai salesman. Tugasnya tentu saja menjual, menjual dan menjual. Namun seiring dengan pergeseran bisnis, mereka ditiadakan karena diubah menjadi konsultan. Jadi, yang dibentuk bukan salesman, melainkan business consultant. Ia tidak sekadar menjual, tetapi juga memberi informasi solusi layaknya seorang konsultan kepada kliennya. Perubahan ini tak main-main. "Bahkan kami adakan acara ramai-ramai bakar kartu nama yang lama secara bersama-sama. Kalau dulu di kartu nama tertulis jabatan sales force, kemudian diganti menjadi business consultant," ujar Paulus mengenang.

Jajaran mekanik di lapangan juga tak luput dari transformasi. Awalnya tugas mereka hanya memperbaiki alat-alat berat yang rusak dan memelihara alat berat yang masih bagus, kemudian diubah menjadi memelihara dan mengembangkan. "Harus maintain dan improve supaya hasilnya bagus. Kalau sebelumnya alat bisa menghasilkan kerja 10 ton/jam, kemudian juga memikirkan bagaimana supaya bisa menghasilkan 11 ton/jam. Selain itu, juga memikirkan bagaimana efisiensi kebutuhan bahan bakar. Jadi, mereka mikir untuk pengembangan," kata Paulus. Adapun para operator alat berat di lapangan, tugas mereka bukan semata-mata mengoperasikan alat, melainkan sudah memikirkan hasil kerja (produce result). "Jadi, kami memang mentransformasi orang," Paulus menegaskan.

Tentu saja, berbagai perubahan itu diikuti pula penambahan pada sisi infrastruktur. Artinya, transformasi yang terjadi memang difasilitasi betul oleh perusahaan. "Kami juga membenahi infrastruktur, termasuk metodenya," kata Djoko. Sebut contoh, pada masa-masa sebelumnya di UT hanya dikenal punya kantor cabang (di kota besar) dan kantor perwakilan (di kota kecil), tetapi dengan tranformasi itu, didirikan unit job site facilites di berbagai lokasi tambang. "Job site facilities itu setara dengan kantor cabang, namun investasinya jauh lebih besar. Ruang workshop-nya jauh lebih besar dengan peralatan yang lebih lengkap, harus ada gudang dan orang-orang yang ditempatkan."

Demikian juga dari sisi TI. Sistem TI yang terintegrasi saja tidak cukup, melainkan dikolaborasikan dengan pelanggan. Tak mengherankan, sekarang UT mempersenjatai diri dengan berbagai keunggulan TI. Sistem TI-nya bergeser dari desk base ke arah solusi yang mudah diakses di lapangan (mobile application). Contohnya, UT menerapkan vehicle management system untuk pengelolaan armada alat berat dan angkutan (dump truck, dll.).

Dengan adanya vehicle management system, kalau ada kendaraan rusak atau kurang bahan bakar di lapangan, bisa langsung diketahui karena setiap kendaraan dihubungkan dengan sistem. Lalu, kendaraan sedang dipakai untuk bekerja ataukah tidak pada jam tertentu akan mudah diketahui dari kantor pusat. Termasuk kalau dari bagian leasing diinformasikan ada pelanggan yang belum bayar, bisa tinggal pencet dari tombol komputer di kantor pusat untuk memberi peringatan agar kendaraan berhenti beroperasi.

Cara itu dilakukan karena melayani sektor pertambangan memang butuh pendekatan berbeda. Ketika di bisnis kontruksi, masih bisa mengatakan: akan melayani besok pagi karena sekarang pukul 17.00 dan kantor sudah tutup. Namun, untuk pelanggan sektor pertambangan, cara seperti itu tidak bisa dilakukan. "Di bisnis batu bara proses menambang berlangsung 24 jam dan setiap menggali tambang berarti uang," kata Paulus.

Yang juga menarik, dari sisi pengembangan SDM, perusahaan tak serta-merta menuntut karyawannya bertransformasi, misalnya agar tenaga penjualan berubah menjadi konsultan bisnis, dll. UT memfasilitasi berbagai kegiatan pengembangan diri. Disediakan lembaga pelatihan yang diarahkan menjadi learning center. Karyawan yang dimasukkan ke UT Learning Center dikembangkan hard skill plus soft skill-nya, serta diarahkan menjadi manajer yang punya jiwa kewirausahaan tinggi agar bisa menciptakan dan mengembangkan bisnis-bisnis di lingkup UT.

Berbagai perubahan itu diharapkan bermuara pada pelanggan dan mereka rasakan langsung. “Intinya, kami ingin menghadirkan the lowest lifetime cost per total output dari proses produksi pada pelanggan kami,” ujar Djoko. Dalam pandangannya, di bisnis alat berat yang menyasar sektor tambang seperti yang digeluti UT, satu-satunya cara berpromosi yang efektif adalah dengan mendekati langsung pelanggan lalu menawarkan solusi terbaik.

Nila Irjani, karyawan yang juga Head of Corporate Planning UT, merasakan perusahaannya memang sungguh-sungguh dalam bertransformasi menjadi solution driven company. "Mulai dari visi, kemudian deploy-nya secara organisasi juga sungguh-sungguh dipikirkan. Kami men-setting arahan strategi untuk masing-masing divisi, pekerjaan masing-masing divisi apa, organisasi yang dibutuhkan seperti apa untuk tranformasi itu. Perusahaan juga membuat learning center. Semua diarahkan ke solution driven tersebut," ujar Nila yang sebelumnya menekuni bidang TI.

Salah satu kesungguhan UT juga tampak dari dibentuknya divisi perencanaan korporat yang dikepalai Nila. "Divisi ini juga dibentuk dalam rangka transformasi, untuk memastikan proses tranformasi dari atas ke bawah bisa alligment. Kami percaya kalau segala sesuatunya by design dan terus di-review, jalannya lebih terkontrol. Nggak seperti orang buta berjalan. Yang penting, kami terus konsisten," ungkap Nila.

Yang pasti, kinerja UT di awal 2009 tetap kinclong. "Kuartal pertama tahun ini diharapkan market share kami sudah di atas 50% dibanding tahun lalu sekitar 48%. Kondisi keuangan kami sehat sekali. Tidak ada tidak utang. Inventori bisa kami kontrol. Kami ingin menunjukkan bahwa apa yang selama ini (dijalankan) memang benar-benar menghasilkan," kata Djoko penuh optimisme.

Apakah berarti tidak ada kendala dan gejolak dalam proses transformasi di UT?

"Secara garis besar nggak ada gejolak. Tapi yang namanya perubahan di mana pun pasti menimbulkan kekurangnyamanan pada sebagian orang yang merasa sudah mentok," ungkap Djoko. Namun, ia menambahkan, sesungguhnya yang terpenting ialah bagaimana melakukan perubahan itu sendiri. "Kami tidak dengan cara hari ini buat konsep dan besok langsung dijalankan. Kami lakukan proses sosialisasi dulu, dijelaskan kenapa harus berubah dan akan dibawa ke mana. Kalau hati mereka sudah dibuka dan jelas, maka mau dibawa ke mana saja biasanya tidak menolak. Orang UT cenderung sangat fleksibel walau organisasi sudah tua karena sudah dari 1973," papar Djoko.

Lebih dari itu, transparansi dan keterbukaan sudah dibiasakan di lingkungan UT sejak awal. Dengan cara itu, karyawan akan memberikan pandangan secara objektif bila ada masukan yang ingin disampaikan. "UT satu-satunya perusahaan di Grup Astra yang menerapkan sistem whistle blower," Djoko menunjuk. Jadi, tiap karyawan dipersilakan menyuarakan unek-uneknya melalui surat bila ada ketidakberesan, dan identitas si pelapor dilindungi. "Daripada mereka membuat surat kaleng, lebih baik kami wadahi. Dia boleh melaporkan hal yang dialaminya dan dilindungi. Itu jarang lho perusahaan yang melakukan. Jadi, tidak asal ngomong GCG tapi praktiknya jauh dari kenyataan," kata Djoko kembali.

Proses bisnis terus berjalan dan tantangan baru terus muncul. Seperti dalam setengah tahun terakhir, dunia mulai dicemaskan krisis global. Isu krisis global mau tak mau juga mesti dihadapi UT. Menanggapi dampak krisis global, manajemen UT tampaknya optimistis dalam menyikapi. "Untungnya tahun 2007 dan 2008, UT tidak jorjoran dengan nambah orang dan invest di sana-sini. Makanya, sekarang tidak berkeinginan mengurangi karyawan. Tiga bulan pertama 2009 ini menunjukkan apa yang ditakutkan di akhir tahun lalu tidak separah yang dibayangkan," ungkap Djoko. Kuartal I/2009 ini revenue-nya naik 30% dibanding kuartal I/2008 walaupun volume turun.

Lebih dari itu, rupanya UT juga sudah menyiapkan strategi lanjutannya (next level). Persisnya dalam dua tahun terakhir perusahaan ini punya banyak bisnis baru yang mulai jalan. Tahun lalu sudah memulai bisnis rental melalui PT Multi Prima Universal. "Makanya begitu penjualan unit alat berat baru turun seperti sekarang, bisnis jasa rentalnya justru naik luar biasa. Dalam tiga bulan ini naik sangat fantastis," kata Paulus. Usaha rental ini dulunya di UT hanya berupa divisi, tetapi sudah setahun ini dijadikan perusahaan tersendiri.

UT pun telah memperkuat diri dengan merestrukturisasi anak usaha. UT ingin konsentrasi di mesin alat berat yang besar (Komatsu), maka alat yang kecil-kecil yang melayani agroforestry dll. kemudian diserahkan ke anak usaha UT, PT Bina Pertiwi (BP). Contohnya, bisnis forklift dan genset. Bahkan, BP sekarang juga mengerjakan bisnis telekomunikasi untuk agro (membuat menara). "Tim di anak usaha ini baru saja direstrukturisasi dan Pak Djoko sudah mengirimkan orang-orang terbaik UT untuk merestrukturisasi BP. Orang eks UT dikirimkan ke sana. Antara lain, ada orang TI di UT disuruh jadi marketing di BP, lalu direkturnya diangkat dari kepala cabang Surabaya," Paulus memaparkan.

Tak berhenti di situ. Tak lama lagi UT akan meluncurkan bisnis baru bidang pengangkutan batu bara (Patria Maritim Line), lalu perusahaan logistik untuk mengangkut alat berat dan suku cadangnya dari Jakarta ke tujuan mana saja (PT Harmony Mitra Utama). Juga, punya PT Tuah Turangga Agung yang mengakuisisi konsesi tambang batu bara. UT juga punya tambang batu bara dengan cadangan 40 juta ton yang segera akan dieksplorasi. Konsesi tambang ini dibeli dari dana hasil right issue ketiga, persis seminggu sebelum krisis terjadi (catatan: dari right issue UT mendapatkan tambahan modal Rp 3,6 triliun dari pemilik modal yang sudah ada). "Kami ingin punya keuntungan bisnis di value chain. Jadi mulai dari punya konsesinya, punya contracting, punya transportasinya. UT sekarang diposisikan sebagai AHEME (Astra Heavy Equipment Industry, Mining dan Energy),” ujar Djoko.

Widjaja Kartika, GM Divisi Suku Cadang UT, membenarkan perusahaannya telah bertransformasi menjadi solution driven company. Menghadapi krisis global, Widjaja optimistis. “Penjualan unit baru mungkin menurun, tapi kami yang di product support seperti bisnis suku cadang dan servis justru optimistis karena yang kami tanam tiga tahun lalu justru sekarang berbuah. Maka, target kami justru meningkat di tahun ini. Itu yang menurut kami lebih baik karena berarti bisnis kami sustain," tuturnya.

Lilik Agung, pemerhati bidang manajemen yang juga Mitra Pengelola High Leap Consulting, melihat perpindahan dari sektor konstruksi ke sektor mining menunjukkan kejelian manajemen UT dalam memandang arah bisnis. Apalagi, sektor pertambangan di Indonesia dan dunia pada waktu itu mengalami booming luar biasa, sementara sektor konstruksi nyaris jalan di tempat. Ada dua hal yang menurut Lilik menjadi alasan UT memutar haluan bisnisnya. “Pertama, memang bisnis mining sedang tumbuh luar biasa dan berjangka panjang. Kedua, untuk mempertahankan dominasinya dalam bisnis alat berat."

Dalam pengamatan Lilik, alat berat merek Komatsu yang dijual UT menjadi penguasa pasar hanya di sedikit negara. Salah satunya, Indonesia. "Pada mayoritas negara lain Komatsu selalu di bawah Caterpillar. Jika UT tetap pada pilihannya melayani sektor konstruksi, dapat dipastikan UT akan dikalahkan Trakindo (Caterpillar) yang memang sangat kuat di sektor mining." katanya.

Lilik memprediksi, peluang sukses transformasi UT sangat tinggi melihat rekam jejak yang luar biasa dalam menjadikan Komatsu sebagai nomor satu di Indonesia. Menurutnya, ada empat alasan yang mendasari keberhasilan. Yaitu, karyawan yang mudah menyesuaikan diri dengan perubahan internal dan eksternal, sistem rekrutmen, pengembangan, jenjang karier, dan kompensasi di UT yang sudah sangat bagus, infrastruktur yang dimilikinya (perkakas manajemen modern – misalnya, Balanced ScoreCard, Six Sigma, dan sistem TI) telah memadai, budaya perusahaan sudah tertanam kuat, serta pertumbuhan dari bisnis pertambangan masih akan menjanjikan. "Imbas krisis global memang berpengaruh, namun pada jangka relatif pendek. Seiring dengan membaiknya perekonomian global, keperkasaan bisnis mining akan kembali ke posisi semula. Sementara UT sudah siap karena memutuskan masuk ke bisnis ini," kata Lilik. ***


URL : http://www.swa.co.id/swamajalah/praktik/details.php?cid=1&id=9320

Bunga Deposito semestinya sama dengan BI Rate

06/07/2009 - 12:57

Bunga Deposito Ideal Setara BI Rate
Ahmad Munjin


INILAH.COM, Jakarta - BI kembali menurunkan suku bunga acuan (BI rate) 25 basis poin (bps) menjadi 6,75%. Perbankan diharapkan lebih gencar lagi menurunkan suku bunga deposito hingga menyamai BI rate. Pada muaranya, suku bunga kredit bisa dipangkas.

Direktur Retail Banking PT Bank Mega, Kostaman Thayib menyambut positif pemangkasan kembali BI rate menjadi 6,75% dari 7%. Penurunan ini menurutnya akan mendorong perbankan lebih berani lagi menurunkan suku bunga deposito. Sehingga, tidak diturunkan hanya 25 bps, melainkan bisa 50 hingga 100 basis poin.

Menurut Kostaman, pada praktiknya suku bunga deposito masih ada di kisaran 9-10% sedangkan BI rate sudah 6,75%. Artinya ada selisih 4%. “Seharusnya suku bunga deposito sama dengan BI rate sehingga suku bunga kredit bisa ditekan lebih rendah lagi,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, kemarin.

Sejak awal tahun, BI memang terus menurunkan BI rate secara agresif sebanyak 200 bps. Per Januari, BI rate berada di 8,75%, Februari 8,25%, Maret 7,75%, April 7,50%, Mei 7,25%, dan Juni lalu di 7%.

Menurut Kostaman, memang saat ini sudah ada penurunan suku bunga deposito, namun masih ada selisih 4% lebih tinggi dari BI rate. Saat BI rate 9,5% pada November 2008, suku bunga deposito 13-14% Sekarang pada saat BI rate 6,75% suku bunga depostio 9-10%. “Jadi memang masih ada selisih 4% antara deposito dengan BI rate,” tandasnya.

Merupakan tugas perbankan untuk menurunkan depositonya lebih cepat lagi agar suku bunga kredit juga bisa turun lebih cepat. “Selama BI rate turun, saya yakin bank akan lebih berani menurunkan suku bunga deposito,” imbuhnya.

Di sisi lain, Kostaman juga sependapat dengan saran agar Bank Indonesia menurunkan outstanding Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sehingga tidak memanjakan perbankan. Sehingga perbankan bisa berlomba-lomba menyalurkan kredit. ”Ketika terjadi persaingan ketat dengan sendirinya suku bunga kredit akan turun,” tuturnya.

Selama ini, menurut Kostaman, perbankan enggan menyalurkan kredit karena kelebihan dananya diparkir di SBI. ”Lebih baik disalurkan ke kredit sektor produktif agar bisa membangun ekonomi,” paparnya.

Di sisi lain, lanjut Kostaman, aturan BI mengenai derivatif tidak bisa menjadi alasan bagi perbankan untuk tidak menurunkan suku bunga deposito. Justru, Kostaman menilai langkah BI itu sangat baik. “BI sudah mengatur produk-produk derivatif termasuk structured product dan offshore product,” imbuhnya.

Pasalnya, pada saat krisis yang lalu banyak masyarakat Indonesia yang terkena dampak dari produk derivatif. Akibatnya, banyak nasabah yang rugi karena kurang mengerti mengenai produk-produk derivatif.

“Itu akan lebih baik jika BI mengatur agar orang tidak semudah itu menjual produk offshore di Indonesia,” imbuhnya. Kostaman menegaskan produk offshore sangat merugikan perbankan di Indonesia. Bank-bank asing seperti bank Singapura diam-diam menjual produknya di Tanah Air. [E1]
http://www.inilah.com/berita/ekonomi/2009/07/06/124573/bunga-deposito-ideal-setara-bi-rate/

Selasa, 30 Juni 2009

Keterkaitan antara Berbagai Faktor Ekonomi


Penurunan Bunga Kredit Tunggu SUN

Artikel Terkait:
Lagi, BTN Turunkan Suku Bunga
Miranda: "No Free Lunch"
Kadin Usulkan Insentif agar Bank Turunkan Bunga Kredit
Penurunan Bunga KPR Sudah Mendesak
Bunga Deposito Mulai Turun, Bunga Kredit Tunggu Dulu


Rabu, 1 Juli 2009 | 11:23 WIB

JAKRTA, KOMPAS.com - Perbankan masih menghadapi kendala untuk segera menurunkan lagi suku bunga kreditnya selain suku bunga simpanan juga menunggu penurunan imbal hasil surat utang negara (SUN). Karena itu, penurunan suku bunga bank tidak semudah yang diperkirakan , sebab harus melalui beberapa tahapan, meski Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan bunga BI Rate hingga mencapai tujuh persen.

Bunga kredit bank sebenarnya sudah beberapa kali turun yang sebelumnya mencapai 16 persen kini menjadi 13 persen. Namun suku bunga kredit itu dinilai masih tinggi. Dunia usaha menginginkan tingkat suku bunga bank bisa turun mencapai 10 persen dari sekarang dalam upaya memicu pertumbuhan ekonomi tumbuh lebih baik.

Pengamat ekonomi Fauzi Ikhsan Senin di Jakarta, mengatakan, penurunan bunga kredit perbankan akan menunggu penurunan imbal hasil (yield) surat utang negara (SUN). "Perbankan di saat seperti ini tentu lebih suka memasukkan uangnya di SUN dibandingkan disalurkan ke kredit. Tentu saja SUN dinilai lebih aman saat ini, dengan imbal hasilnya yang tinggi juga menjadi daya tarik. Jadi perbankan ke depan sulit untuk menurunkan suku bunganya, kecuali imbal hasil SUN turun cepat," kata Fauzi yang juga ekonom senior Standard Chartered Bank.

Menurut dia, kondisi perbankan saat ini juga tidak memiliki banyak pilihan. Perbankan tetap akan memberikan bunga kredit yang cukup tinggi sesuai dengan risiko yang masih di hadapi. Apalagi, instrumen keuangan seperti SUN dan sukuk yang menawarkan imbal hasil yang cukup tinggi yang bisa menjadi tempat penempatan dana yang menarik bagi bank.

Di sisi lain, instrumen itu juga menjadi pesaing perbankan dalam merebut dana pihak ketiga, sehingga pilihan perbankan untuk menurunkan suku bunga menjadi sangat kecil.

Sementara itu, pengamat ekonomi Tony A Prasetyantono mengatakan, perbankan saat ini masih menunggu aliran dana dari luar masuk kembali ke Indonesia (capital inflows) guna mendorong pelonggaran likuiditas sehingga dapat memberikan ruang untuk menurunkan suku bunga kreditnya.

Ia mengatakan, perbankan saat ini masih menunggu aliran dana dari luar masuk kembali ke Indonesia guna mendorong pelonggaran likuiditas sehingga dapat memberikan ruang untuk menurunkan suku bunga kreditnya. "Saya berharap, ke depan kita masih punya dua momentum untuk menarik arus modal asing untuk memperkuat rupiah dan memperlonggar likuiditas. Jika ini terealisasi, saya yakin bisa menjadi modal bank untuk menurunkan suku bunganya," katanya.

Ia menjelaskan dua momentum tersebut adalah pengumuman inflasi pada bulan Juni. Bila inflasi masih sangat terkendali, hal itu akan dinilai perekonomian Indonesia masih tetap baik. Hal ini akan menarik investor untuk masuk ke Indonesia.

Kedua, menurut dia adalah pelaksanaan pemilihan presiden. Bila nantinya pemilihan presiden berjalan dengan lancar. Hal ini akan memperkukuh pandangan Indonesia yang memiliki stabilitas politik yang baik.

Sangat penting

Direktur OCBC NISP, Rama Pranata Kusumah juga mengatakan, penurunan suku bunga dana simpanan sangat penting untuk menekan bunga kredit yang saat ini masih berkisar 14-18 persen. "Penurunan suku bunga simpanan sangat diharapkan agar perbankan kembali menurunkannya suku bunga kreditnya," ujarnya.

Menurut dia, suku bunga kredit yang tinggi itu mempersulit debitur mencari pinjaman di bank, karena mereka merasa khawatir tidak dapat mengembalikan pinjaman terrsebut. "Debitor tidak berani mengambil risiko mencari pinjaman kredit bank karena tingkat bunga kredit bank yang masih tinggi," ucapnya.

OCBC NISP sendiri, sebutnya, telah mematok suku bunga deposito sebesar delapan persen dan bunga kredit yang berkisar 12 sampai 14 persen.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi triwulan kedua 2009 yang diperkirakan makin membaik, sehingga perbankan diminta harus dapat mempersiapkan diri menyalurkan kredit kepada debitur. "Suku bunga kredit yang makin turun akan memicu pelaku usaha mencari dana baru untuk meningkatkan usaha yang selama tersendat," katanya.

Sementara itu, Kabag Treasury Bank Bumi Arta, Ikko Gunawan mengatakan, banknya telah mematok bunga deposito rupiah untuk periode satu bulan nominal dibawah Rp100 juta 7,5 persen per tahun dan di atas Rp100 juta sebesar 8,25 persen. "Untuk bunga deposito jangka waktu tiga bulan, 6 bulan dan 12 bulan dipatok 8,25 persen per tahun," katanya.

Ikko Gunawan mengatakan, optimis perbankan akan menyesuaikan tingkat suku bunga kredit setelah Bank Indonesia (BI) menurunkan bunga BI Rate dari 7,25 persen menjadi 7,00 persen. "BI Rate diperkirakan akan kembali turun, apabila laju inflasi Juni 2009 terus membaik," ujarnya.

Selain itu, Bank Mega Tbk juga telah mematok bunga deposito sebesar 5,5 persen, sedangkan untuk bunga deposito tiga bulan sampai 12 bulan dipatok sebedsar 7,5 persen. Sedangkan deposito dalam dolar untuk 1 bulan sampai 12 bulan mencapai 1,75 persen.

EDJ
Sumber : Ant

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/07/01/11232628/penurunan.bunga.kredit.tunggu.sun

Senin, 29 Juni 2009

Rating Ekonomi Indonesia Lebih Baik


Analisis Danareksa
Layak Mendapat "Rating" Lebih Baik

Senin, 29 Juni 2009 | 04:08 WIB

Baru-baru ini Moody’s Rating Agency, sebuah lembaga rating internasional, menaikkan prospek (outlook) rating Indonesia dari stabil menjadi positif. Kenaikan tersebut terasa lebih tinggi nilainya mengingat saat ini prospek dan rating beberapa negara justru turun akibat krisis ekonomi global. Budi Susanto

Perkembangan ekonomi Indonesia menarik perhatian dunia ketika pada kuartal I-2009 mampu tumbuh 4,37 persen di tengah perekonomian dunia yang sedang kontraksi. Sebelumnya, ekonomi Indonesia juga mencatat pertumbuhan mengesankan 6,06 persen pada 2008. Sebagai perbandingan, ekonomi Amerika Serikat sebagai sumber krisis hanya tumbuh 1,1 persen pada 2008.

Secara keseluruhan, ekonomi negara-negara Asia lebih tahan terhadap krisis ekonomi kali ini dan diperkirakan pulih lebih cepat dibanding kawasan dunia lainnya. Karena eksposure Asia terhadap sumber krisis relatif lebih rendah, penurunan persepsi risiko atas pasar keuangan Asia terjadi lebih cepat. Hal ini tercermin pada perkembangan credit default swap (CDS). Harga CDS atas investasi di negara-negara emerging market Asia saat ini turun cepat hingga mendekati level pertengahan 2008, yakni sebelum kebangkrutan Lehman Brother yang menyebabkan meroketnya harga CDS. Padahal, CDS untuk produk investasi negara maju seperti AS dan negara di Eropa belum kembali ke level pertengahan tahun 2008.

Pasar saham Indonesia mencatat imbal hasil tertinggi di Asia. Mungkin salah satu yang tertinggi di dunia, menghasilkan return lebih dari 50 persen hanya dalam waktu kurang dari enam bulan. Sementara itu, pasar obligasi juga mengalami pemulihan harga hingga indeks rata-rata yield obligasi pemerintah berkupon tetap sempat menyentuh kisaran 9,7 persen, turun signifikan dibandingkan level tertinggi tahun ini 13,56 persen pada awal Maret 2009.

Prospek ”rating” naik

Kinerja ekonomi yang baik jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang mempunyai rating yang setingkat, mendorong Moody’s menaikkan prospek rating Indonesia. Kini, Moody’s memberikan rating Ba3 kepada Indonesia untuk utang dalam mata asing jangka panjang. Kenaikan prospek adalah setengah jalan menuju kenaikan rating sehingga jika kita mampu mempertahankan prestasi yang telah dicapai, lembaga rating kemungkinan besar akan menaikkan rating menjadi Ba2. Rating Ba2 oleh Moody’s setara dengan rating BB dari Standard & Poor’s (S&P) dan Fitch Rating.

Sementara itu, saat ini S&P memberikan rating BB- kepada Indonesia untuk utang dalam mata uang asing jangka panjang, sedangkan Fitch sudah terlebih dulu menaikkan rating menjadi BB pada tahun 2008 untuk jenis utang yang sama.

Langkah Moody’s menaikkan prospek Indonesia diperkirakan tidak lama lagi akan diikuti oleh S&P. Jika dibandingkan dengan negara sepadannya (peers), rating Indonesia masih terbilang rendah. Contohnya Malaysia, mendapatkan rating A- untuk utang dalam mata asing jangka panjang dari S&P, sedangkan Thailand dan Filipina masing- masing meraih rating BBB+ dan BB- untuk jenis utang dari lembaga rating yang sama.

Dengan situasi ekonomi dan sistem keuangan Indonesia terkini dan didukung oleh kepastian hukum yang lebih baik, semestinya dapat menjadi modal besar untuk mengubah paradigma lembaga rating terhadap creditworthiness atas Indonesia. Pentingnya mendapatkan rating yang baik adalah karena rating merupakan salah satu referensi penting para investor menanamkan modalnya di suatu negara. Selain modal dalam negeri, penanaman modal dari luar negeri, terutama investasi bersifat jangka panjang, akan sangat membantu mempercepat pertumbuhan negara yang sedang membangun seperti Indonesia.

Jika dirunut ke belakang, Indonesia pernah meraih rating BBB dari S&P atau ekuivalen dengan Baa3 pada awal 1990-an. Namun, rating Indonesia turun tajam sejak krisis ekonomi, bahkan pernah mengalami tiga kali mendapat rating selective default (SD), yakni tahun 1999, 2000, dan 2002. Rating SD diberikan saat pemerintah masa itu dianggap default atas salah satu kewajiban keuangan kepada kreditor atau pihak lainnya.

Saat ini pemerintah kelihatannya lebih berkomitmen menjaga creditworthiness dan mendukung terciptanya situasi kondusif bagi investor, baik dari dalam maupun luar negeri. Dengan didukung oleh pengelolaan fiskal dan moneter yang baik, rating Indonesia terus naik dari B- (rating S&P) tahun 2003, naik 3 notch menjadi BB- di tahun 2007. Bahkan, tahun 2008 Fitch menaikkan rating Indonesia satu nocth lagi menjadi BB.

Rasio utang membaik

Selain prospek perekonomian yang kuat, pertimbangan lembaga rating menaikkan prospek rating Indonesia berdasarkan penurunan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) hingga 31 persen pada Maret 2009. Rasio tersebut lebih baik dari negara-negara lain, misalnya G-20 emerging market (36 persen), India (81 persen), Brasil (65 persen), AS (69 persen), dan Jepang (203 persen). Kian rendah rasio utang terhadap PDB, artinya kemampuan membayar utang lebih besar.

Namun, ada sebagian kalangan yang mengkritik penggunaan rasio ini karena menganggap penggunaan rasio utang terhadap produk nasional bruto (PNB) lebih cocok bagi Indonesia. Terlepas dari perdebatan mana yang lebih baik, rasio utang terhadap PDB lebih umum digunakan di seluruh dunia sehingga lebih mudah untuk membandingkan posisi di antara negara-negara lainnya. Akan jauh lebih mudah mengetahui perkembangan kinerja pengelolaan utang dan produktivitas penggunaannya dengan menggunakan ukuran yang umum digunakan dan diperbandingkan.

Oleh pengkritiknya, PDB sebagai ukuran produktivitas yang cenderung overestimate untuk kasus Indonesia sehingga lebih baik menggunakan PNB yang lebih mencerminkan output sesungguhnya. Namun, pada praktiknya, PDB lebih umum digunakan sebagai perbandingan terhadap utang pemerintah. PDB adalah output yang dihasilkan di negeri ini yang akan menjadi obyek pendapatan pemerintah, baik yang dihasilkan oleh warga negara Indonesia maupun penduduk bukan warga negara melalui pajak, bagi hasil pendapatan, dan lain-lain. Jadi, PDB merupakan sumber pendapatan negara dan karena itu digunakan untuk mengukur leverage sebuah negara dengan cara membandingkannya dengan utang pemerintah.

Perubahan rasio utang terhadap PDB dalam tingkatan tertentu dapat mencerminkan efektivitas penggunaan utang pemerintah. Jika pertumbuhan ekonomi lebih tinggi daripada pertumbuhan utang pemerintah, rasio utang terhadap PDB cenderung turun sehingga dapat dikatakan penggunaan utang menghasilkan pertambahan output yang lebih besar dari nilai utang yang bertambah.

Pasar domestik

Fakta lainnya yang mendukung kenaikan prospek rating adalah kebijakan membatasi penarikan utang luar negeri pascakrisis ekonomi 1998 Indonesia. Walaupun utang dalam bentuk surat berharga negara (SBN) naik terus, tetapi diimbangi dengan penurunan pinjaman bilateral dan multilateral. Akhir Maret 2009, total utang dalam mata uang asing 146,9 miliar dollar AS, naik 1,3 miliar dollar AS dibanding pada akhir 2003. Sebagai gantinya, pemerintah mengandalkan sumber pembiayaan dengan surat berharga negara di dalam negeri. Sebagai perbandingan, PDB naik lebih dari dua kali lipat dari Rp 2.046 triliun pada 2003 menjadi Rp 5.488 triliun pada 2008.

Belajar dari krisis ekonomi 1998, negara-negara Asia sepakat mengembangkan pasar obligasi domestik masing-masing untuk mengurangi ketergantungan pada sumber pembiayaan mata uang asing. Dan Indonesia termasuk negara yang serius mengembangkan pasar obligasi, hingga saat ini pemerintah telah menerbitkan beragam jenis SBN, mulai dari bertenor pendek sampai panjang, berbunga dan tidak berbunga, serta instrumen konvensional dan syariah.

Dari pembahasan di atas, rating Indonesia semestinya bisa bertambah baik pada waktu yang tidak terlalu lama lagi.

Budi SusantoHead of Debt Research – Danareksa Sekuritas