Kamis, 30 Juli 2009

Yahoo bekerjasama dengan Microsoft


Teknologi - IT dan Internet
30/07/2009 - 14:01
Yahoo-Microsoft Keroyok Google


INILAH.COM, Jakarta - Yahoo dan Microsoft akhirnya mencapai kata sepakat kerjasama yang sudah dirancang sejak lama. Melalui kerjasama itu, dua perusahaan menyatukan kekuatan untuk menantang pemimpin pasar Google.

Dalam perjanjian tanpa cash itu, Yahoo akan menggunakan situs pencari Microsoft yang baru Bing. Yahoo akan berperan secara eksklusif sebagai penjual iklan global pencarian premium di situs itu.

Menurut firma ComScore, Google menguasai 65% pasar pencarian. Gabungan antara Yahoo dan Microsoft akan menjadikannya memiliki 30% market share.

Yahoo, yang tahun lalu menolak tawaran US47,5 miliar pengambilalihan dari Microsoft, menyatakan akan mendapat kenaikkan US$500 juta operating income tahunan. Selain juga mendapat US$200 juta penghematan capital expenditure melalui perjanjian dengan Microsoft itu.

Yahoo juga memperkirakan perjanjian itu akan menyediakan US$275 juta operating cash flow tahunan.

"Aku yakin perjanjian itu menjadi fondasi era baru inovasi internet,” kata chief executive Yahoo Carol Bartz.

Chief executive Microsoft Steve Ballmer mengatakan perjanjian itu akan menjadikan Bing makin kuat dalam menantang Google, selain menarik lebih banyak user dan pengiklan.

"Dengan kerjasama dengan Yahoo akan membuat pencarian lebih inovatif dan nilai tambah bagi pengiklan. Kerjasama ini akan memberikan kami kekuatan dan sumber daya untuk membuat pencarin di masa depan,” kata Ballmer.[ito]

Minggu, 26 Juli 2009

Krisis Tak Mampir di Elektronik

Barang Elektronik
Krisis Tak Mampir di Elektronik
Penjualan barang elektronik terus meningkat. Fokus pada peralatan yang cepat laku dan ramah lingkungan.

Masih pagi benar ketika Didik tiba di stan elektronik di lantai dua Carrefour Depok, Jawa Barat, Selasa pekan lalu. Pengunjung pasar modern itu belum banyak. Dia bolak-balik melihat televisi yang dipajang, dan menjatuhkan pilihan pada Toshiba Slim 21 inci. ”Tolong yang ini, Mas,” katanya kepada pramuniaga. Namun stok televisi seharga Rp 1,6 juta itu kosong. Dia beralih ke merek lain, Polytron, tapi sama saja. ”Habis juga, Mas. Belum tahu kapan akan dikirim lagi,” kata sang penjaga toko.

Apa boleh buat, Didik mungkin sedang tak beruntung di pasar modern itu. Penjualan barang elektronik memang kembali menanjak. Banyak barang yang tak lagi menyisakan stok alias ludes disikat pembeli. Alhasil, Didik sebetulnya tak sendiri. Banyak konsumen seperti dia yang mesti menunggu datangnya pasokan baru dari pabrik.

Menurut data Electronic Marketer Club, pada Juni lalu, total penjualan peralatan elektronik naik 2,7 persen menjadi 1,15 juta unit—dibanding 1,12 juta unit bulan sebelumnya. ”Dari pantauan kami, daya beli konsumen memang terus tumbuh,” kata Sekretaris Jenderal Electronic Marketer Club Agus Soejanto, di Jakarta, Rabu pekan lalu.

Agus lalu menunjukkan data penjualan semester pertama tahun ini. Nilainya mencapai Rp 9,39 triliun, naik enam persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Padahal total unit yang terjual malah turun 0,3 persen, cuma 6,38 juta. Ini karena harga jual naik sepanjang tahun ini, terlepas dari banyaknya diskon. ”Penjualan elektronik bisa dibilang stabil sejak krisis,” kata Agus.

Ini memang fenomena aneh. Sejak krisis mendunia pada triwulan ketiga tahun lalu, penjualan semua jenis barang rata-rata turun, bahkan banyak yang anjlok. Di otomotif, misalnya, penjualan tahun ini dibanding tahun lalu turun jauh. Di elektronik, tidak ada kata turun untuk item seperti penyejuk udara (AC), kulkas, atau pompa air. Hanya penjualan televisi dan audio yang naik-turun (lihat tabel).

Menurut Didi Raharja, Group Head Consumer Electronics Produk Marketing Samsung Indonesia, naik-turunnya penjualan televisi mungkin karena konsumen mulai beralih dari televisi tabung cembung ke layar datar, baik dalam format LCD maupun plasma. Tahun ini, Samsung melepas LCD baru yang lebih tipis dan hemat listrik meskipun lebih mahal. Sejauh ini, penjualannya tetap bagus. ”Terus naik sejak diluncurkan Mei lalu,” kata Didi.

Agus membenarkan. Produk baru dengan teknologi yang lebih baik, terutama yang ramah lingkungan, cepat diserap pasar, apalagi yang harganya agak miring. Misalnya AC irit listrik, mesin cuci hemat air, atau vacuum cleaner yang bisa didaur ulang. Bahkan, jika pun harganya mahal, terutama untuk merek ngetop, penyerapan pasarnya juga oke.

Meski demikian, strategi yang terasa paling menonjol, menurut Agus, banyak produsen elektronik yang berfokus pada barang cepat laku alias fast moving. ”Saat ini yang paling cepat dijual ya AC dan kulkas,” katanya. Terakhir, pada Juni lalu, penjualan refrigerator dan freezer mencapai lebih dari 243 ribu unit, naik 15,3 persen dari bulan lalu. Penjualan AC naik 8,8 persen menjadi sekitar 125 ribu unit pada Juni.

Fokus pada produk unggulan ini, menurut Lany Kurniawan, Manajer Marketing Electrolux Indonesia, juga mereka lakukan. ”Kami berfokus pada home appliance yang cocok untuk pasar Indonesia,” katanya. Mereka, misalnya, mendorong penjualan mesin cuci yang hemat air, hemat listrik, dan mencuci lebih cepat, atau kompor yang nyala apinya lebih besar. Mungkin karena target pasarnya kelas menengah ke atas, penjualan Electrolux terus naik.

Yang mungkin akan mengambil langkah berbeda adalah Panasonic. Merasa pasar kelas atas mulai jenuh, produsen elektronik asal Jepang itu telah melontarkan rencana untuk mulai memproduksi ”barang murah”, misalnya televisi LCD dengan harga di bawah sejuta rupiah.

Jika benar, inilah yang dinanti-nanti pembeli seperti Puti Noviyanda. Perempuan 25 tahun ini ditemui Tempo di Plaza Semanggi, Jakarta, Rabu pekan lalu. ”Saya ingin beli LCD yang harganya semurah-murahnya, ukurannya sebesar-besarnya,” katanya sembari terbahak. Sejauh ini, meski harganya turun terus, televisi layar datar tetap saja masih mahal. Toh, penjualannya tetap tinggi. Krisis agaknya tak pernah mampir di toko-toko elektronik.

Philipus Parera, Retno Sulistyowati, Munawwaroh

Pertumbuhan Penjualan Barang Elektronik (Semester I)


Tahun 2008 Tahun 2009
Televisi 2.579.783 2.016.066
Pemutar CD/DVD 508.114 1.124.126
Audio 316.128 224.386
Refrigerator & Freezer 1.041.391 1.095.285
Air Conditioner 535.737 556.24
Mesin Cuci 550.428 602.719
Pompa Air 877.38 770.965
Total 6.408.961 6.389.787

(- 0,3)
Nilai 8.850.094 9.393.899

(6,1)

Data Electronics Marketer Club

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/07/20/EB/mbm.20090720.EB130899.id.html

Sabtu, 25 Juli 2009

Lupakan BlackBerry, Kini Era Android

Teknologi - Komunikasi dan Gadget
26/07/2009 - 11:31
Lupakan BlackBerry, Kini Era Android
Budi Winoto


Android
(istimewa)


INILAH.COM, Jakarta - Lupakan iPhone atau BlackBerry. Google sedang dalam misi untuk mengambil alih dunia ponsel. Sistem operasi inovatif Android makin banyak digunakan ponsel baru, dan suatu saat semua ponsel bisa jadi akan menggunakannya.

Ponsel bisa dikatakan teknologi paling berhasil di generasi sekarang. Dengan produksi empat miliar handset di seluruh dunia berarti dua kali lipat pengguna internet serta dua setengah kali jumlah televisi. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya di dunia ponsel?

Jika Google ingin masa depan Android sukses, dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi masa krusial. Android sendiri sudah mendapat momentum dan disebut sebagai sistem operasi ponsel yang akan mengubah cara menggunakan ponsel.

Saat ini ponsel dioperasikan dengan caranya sendiri-sendiri. Sebaliknya misi Android adalah menyederhanakannya. Termasuk membuat tampilan lebih intuitif dan tersedia secara luas sebagai standar.

"Kombinasi kesederhanaan software dan trend di negara berkembang yang langsung ke fungsi menjadikan Android platform global yang menarik untuk beberapa tahun ke depan," kata Richard Warmsley, head internet dan entertainment operator T-Mobile.

Android diprakarsai perusahaan kecil di Palo Alto California yang kemudian dibeli Google pada 2005. Sejak saat itu, Android telah menjadi flagship dari kelompok 48 perusahaan yang dikenal sebagai Open Handset Alliance.

Yang menarik dari Android dan membedakan dari pesaingnya adalah dibuat berdasarkan Linux. Semua orang tahu, Linux dibidani pakar teknologi di seluruh dunia. Selain itu Linux didistribusikan secara open source yang berarti semua orang yang mempunyai kemampuan teknologi yang relevan bisa ikut mengembangkannya.

Berbagai vendor ponsel sudah mulai menunjukkan handset Androidnya. Termasuk pembuat handset Motorola sangat yakin dengan masa depan Android. Perusahaan itu dilaporkan mempekerjakan tim yang terdiri dari 77 insinyur untuk membuat sistem operasi sendiri, serta mempekerjakan insinyur yang paham sistem Google itu.

Tak hanya ponsel, Android juga telah diujicobakan untuk menjalankan netbook. Tak heran Android ini bisa mengancam smartphone popular BlackBerry serta iPhone. Ponsel Android bisa menjadi pesaing langsung iPhone karena keduanya mengusung spesifikasi tinggi serta harga yang tidak beda jauh.

Namun developer Android berbasis di Inggris Al Sutton mengatakan situasi akan berkembang menyerupai pasar komputer. "Aku lihat masa depan iPhone dan Android akan sama dengan PC Mac dan PC Windows. Apple fokus menjadi merek premium sedangkan Android akan tersedia di mana-mana," jelasnya.

Google menyatakan hingga akhir tahun ini akan tersedia 18 handset Android dari berbagai vendor. Sementara yang sudah menyambangi konsumen adalah Android G2 Touch dan Hero yang diproduksi oleh produsen Taiwan HTC.

Ponsel itu high end dengan mengusung kamera 5 megapiksel serta fungsionalitas video serta GPS. Selain itu tentu saja kelebihan integrasi penuh dengan produk Google termasuk Gmail, Google Talk dan YouTube.

Lalu apakah Android bisa menyaingi iPhone? Salah satu yang membuat salah satu unggul adalah tersedianya aplikasi, sehingga fungsi handset konsumen lebih banyak. Tapi filosofi dua ponsel itu dalam memandang aplikasi sangat berbeda.

iPhone sudah lama melakukan tindakan diktator. Apple hanya mengizinkan aplikasi yang lolos uji dan kadang lewat sensor ketat. Sebaliknya Android membebaskan sepenuhnya pada developer. Mayoritas adalah gratis, dan ada yang harus membayar. Keuntungan yang diambil diserahkan pada developer.

Karena kode software tersedia secara open-source maka bisa diubah oleh developer di seluruh dunia. Developer tinggal menyesuaikan untuk kebutuhan lokal dan akan menjadi pesaing ketat Apple App Store.

Sementara iPhone sendirian, handset Android mulai membanjiri pasar. Berbagai handset HTC G1, HTC Magic, G2 Touch/HTC Hero telah disambut antusias konsumen. Perusahaan Korea, Samsung siap merilis Galaxy pada akhir tahun ini begitu pula dengan LG. [E1]

Rabu, 15 Juli 2009

OS Gratis ala Google

Teknologi - IT dan Internet
11/07/2009 - 22:13

Chrome OS Jadikan PC Makin Murah
Budi Winoto




INILAH.COM, Jakarta – Langkah Google yang mengumumkan sistem operasi Chrome secara gratis, bisa memaksa Microsoft melakukan perang harga. Konsumen yang akan diuntungkan, karena harga PC menjadi semakin murah.

Kehadiran Chrome OS (operating system) bisa menjadi ancaman bagi Windows 7. Meskipun Windows mendominasi system operasi dan diinstall di 90% PC di dunia, kehadiran Google Chrome OS bisa menjadi tantangan berat.

"Strategi Microsoft tampaknya akan bersaing di harga. Kini ada kompetitor dengan kekuatan dan merek terkenal. Google adalah perusahaan itu," kata Brent Williams analis di Benchmark Co.

Chrome OS berbasiskan Linux dan didesain untuk PC secara umum. Namun debutnya akan dimulai pada netbook. Hal itu mudah dipahami, karena netbook adalah segmen yang masih mampu tumbuh di saat pasar PC sedang turun.

Jika Google mampu menarik orang membeli komputer dengan Chrome OS, hal itu akan memotong dua sumber keuangan Microsoft terbesar, Windows dan Office yang termasuk di dalamnya Word, Excel dan PowerPoint. Microsoft yang pernah mematikan Netscape di ranah selancar internet, kini sebaliknya mendapat ancaman berat dari Google.

Konfrontasi antara dua perusahaan itu telah diduga selama bertahun-tahun. Namun saat jubir Google mengkonfirmasikan akan mengenalkan vendor komputer di Taiwan dan China yang menjual PC yang menjalankan Chrome OS tetap saja sebagai kejutan.

Ancaman pada Microsoft itu sangat jelas. Di posting blognya Sundar Pichai, Vice-President Product Management dan Linus Upson Engineering Director menjelaskan Chrome OS meredesain ulang arsitektur yang mendasari OS.

Google meyakinkan, user tidak akan diganggu oleh virus, malware dan update keamanan yang selama ini menjadi kekurangan Windows. Chrome OS akan berbasiskan system operasi Linux dan secara khusus ditawarkan untuk netbook.

Laptop kecil dan murah itu dua tahun terakhir tumbuh meledak karena ukuran serta harganya. Data IDC menunjukkan pengapalan netbook telah mencapai 9,5% keseluruhan pengapalan komputer.

Sangat jelas jika pasar bergerak ke Chrome OS, Microsoft akan kehilangan revenue dari Windows dan revenue dari produk Office. Hal itu akan membuat pendarahan keuangan secara berlahan pada raksasa itu, dan mengantar pada kebangkrutan.

Namun begitu tidak semua yakin Google bisa sukses. Michael Gartenberg, consumer devices analyst di Interpret yang bermarkas di Los Angeles termasuk yang tidak terkesan. "Konsumen secara besar-besaran menolak netbook berbasis Linux dan memilih mesin Windows," jelasnya.

Ia menilai pengumuman Google itu hanya untuk mengalihkan perhatian dari peluncuran sistem operasi Windows 7 yang dijadwalkan pada Oktober. "Dengan menciptakan banyak ketakutan dan ketidakpastian, Google berharap bisa mengambil perhatian dan user mengabaikan Windows 7," imbuhnya.

Analis Collins Stewart, Ashok Kumar tidak yakin Chrome adalah ancaman jangka pendek pada Microsoft. Hal itu karena Microsoft bisa secara fleksible mempermainkan harganya untuk merespon adanya tantangan.

"Linux akan naik, dan makin banyak vendor yang mengambil kesempatan, sementara Google menyediakan platform berbeda. Tapi itu hanya tahap pertama dari sebuah marathon," ungkapnya.

Sementara analis Gartner, Michael Silver menyatakan langkah Google bisa sebagai risiko bagi Microsoft. Namun dia ragu raksasa software itu akan memotong harga Windows dengan segera.

"Jika mereka melihat adanya ancaman, mereka akan merespon. Tapi netbook telah lama dijual dengan Windows XP dan lebih sukses dibandingkan Linux meskipun harganya lebih mahal,” paparnya.

Namun Google terus maju dengan mengumumkan netbook yang menjalankan sistem operasi Chrome sudah siap pada akhir tahun ini. Google juga telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan untuk mengembangkan Chrome OS, termasuk dengan Hewlett-Packard dan Acer. [E1]

Senin, 13 Juli 2009

Hitungan Hitungan Berhutang

Analisis Danareksa
Utang RI Sudah Membahayakan?

Senin, 13 Juli 2009 | 06:07 WIB
Oleh Purbaya Yudhi Sadewa


KOMPAS.com — Masalah utang pemerintah kembali mengemuka akhir-akhir ini. Isu ini bahkan menjadi topik yang cukup hangat dalam perdebatan calon presiden yang lalu. Apakah kita perlu terus berutang, dan apakah utang kita saat ini sudah pada level yang membahayakan kesinambungan fiskal kita?

Menurut Departemen Keuangan, total utang Pemerintah Indonesia (domestik dan asing) pada tahun 2009 diperkirakan mencapai Rp 1.700 triliun. Tahun 2004, total utang kita baru Rp 1.299 triliun. Jadi, dalam lima tahun terakhir, total utang Pemerintah Indonesia naik sekitar Rp 401 triliun.

Angka pertumbuhan utang yang ”besar” ini menjadi sasaran empuk pada masa kampanye lalu. Sering disebutkan bahwa keadaan utang kita sudah membahayakan. Anggapan ini membuat sebagian kalangan menjadi kreatif menawarkan alternatif pemecahan masalah utang tersebut. Salah satu alternatif yang ekstrem adalah penjadwalan kembali utang kita.

Alasan berutang

Berutang bukanlah hal yang tabu bagi suatu negara. Hampir semua negara saat ini mempunyai utang. Utang kadang kala diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara ketika ekonomi melambat, saat negara itu mengalami resesi, atau untuk menutup kekurangan pembiayaan anggaran ketika sumber pendapatan dari dalam negeri bermasalah akibat keadaan ekonomi yang buruk.

Selain itu, banyak negara di dunia menerbitkan utang untuk membangun proyek infrastruktur besar, yang justru membuat swasta sulit diharapkan terlibat. Sering kali, keuntungan secara komersial dari investasi semacam ini kecil. Namun, dampak realisasi investasi ini, baik terhadap kesejahteraan masyarakat, keuntungan pelaku bisnis secara tidak langsung, maupun keadaan perekonomian secara keseluruhan, cukup besar.

Beberapa negara bahkan menerbitkan surat utang untuk membiayai kegiatan perangnya. Pemerintah AS, misalnya, menerbitkan surat utang dalam jumlah cukup besar untuk membiayai pasukannya dalam Perang Dunia II. Utang Pemerintah AS naik dari 59 miliar dollar AS tahun 1940 menjadi sekitar 260 miliar dollar AS setelah perang. Pemerintah Australia pun menerbitkan utang untuk membiayai keterlibatannya pada Perang Dunia I dan II.

Untuk Indonesia, kenaikan utang yang signifikan terjadi setelah krisis 1997-1998. Kenaikan ini guna membiayai BLBI, baik untuk menyelamatkan perbankan, maupun untuk merekapitalisasi dunia perbankan kita. Pada saat yang bersamaan, pelemahan rupiah juga membuat utang luar negeri kita dalam rupiah menjadi berlipat-lipat dalam waktu singkat. Akibat krisis tadi, utang pemerintah naik dari Rp 129 triliun tahun 1996 menjadi Rp 1.234 triliun tahun 2000. Naik hampir 10 kali lipat.

Level utang kita sempat relatif stabil pada periode 2000-2006. Namun, mulai tahun 2007, level utang mulai beranjak naik lagi. Kenaikan ini berkaitan dengan ekspansi kebijakan fiskal, baik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, maupun untuk membiayai subsidi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri tahun 2008.

Kemudian, untuk tahun 2009, kenaikan lebih disebabkan stimulus fiskal yang diberikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. Walaupun mahal, langkah ini memang diperlukan untuk mencegah perekonomian kita tidak terpuruk terlalu dalam seperti negara-negara tetangga kita.

Masih berkesinambungan

Dengan utang yang tinggi ini, timbul pertanyaan mengenai kesinambungan kebijakan fiskal kita. Bila investor (baik domestik maupun asing) menganggap utang sudah membahayakan keadaan fiskal kita, tentunya mereka akan segera melepas surat-surat utang dan segera hengkang dari pasar utang pemerintah kita. Sebagian akan melarikan uangnya ke luar negeri dan rupiah pun akan terpuruk. Dampak yang lebih buruk lagi adalah, baik pemerintah, maupun swasta, menjadi kesulitan melakukan pinjaman, baik dalam negeri, maupun luar negeri. Akibatnya, pembiayaan APBN menjadi sulit dan pembangunan perekonomian pun akan terganggu.

Indikator apakah yang menjadi pertimbangan bagi investor untuk menentukan aman tidaknya berinvestasi di surat utang suatu negara?

Pada dasarnya, hal yang paling utama dilihat investor adalah kemampuan dan kemauan negara untuk membayar utang.

Baik kemampuan maupun kemauan sering kali dilihat dari beberapa variabel makroekonomi. Salah satu ukuran ekonomi yang sering digunakan adalah rasio utang terhadap PDB. Semakin kecil rasio ini, semakin mampu suatu negara membayar utangnya dan semakin aman berinvestasi di negara tersebut.

Secara teoretis, tidak ada batasan yang pasti untuk mengatakan rasio utang suatu negara sudah mencapai level yang membahayakan atau tidak. Akan tetapi, negara-negara Eropa bersepakat bahwa rasio utang maksimal yang dapat diterima adalah 60 persen dari PDB.

Dilihat dari ukuran ini, keadaan utang Indonesia untuk saat ini cukup baik. Rasio utang terhadap PDB untuk Indonesia cenderung menurun. Tahun 2004, rasio ini masih pada level 56,6 persen. Tahun 2005 turun ke level 47,3 persen. Adapun tahun 2009, rasio utang kita terhadap PDB diperkirakan turun menjadi sekitar 31 persen.

Dibandingkan dengan negara tetangga pun, keadaan utang kita lebih baik. Rasio utang terhadap PDB Malaysia, misalnya, diperkirakan 41,6 persen. Untuk Thailand rasio ini diperkirakan 39,9 persen untuk tahun 2009.

Jadi, dari ukuran rasio ini, utang Indonesia masih dalam keadaan yang amat aman.

Ukuran lain yang sering digunakan menilai kesinambungan fiskal suatu negara (sekaligus kemampuan membayar utang) adalah rasio defisit terhadap PDB. Sekali lagi, secara teoretis tidak ada patokan jangka pendek yang pasti untuk menentukan fiskal (anggaran) yang aman suatu negara. Namun, negara-negara di Eropa membatasi rasio defisit anggaran maksimum 3 persen terhadap PDB.

Keadaan fiskal Indonesia dilihat dari ukuran ini pun cukup baik. Rasio utang terhadap PDB Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini berada di bawah 3 persen. Tahun 2009, dengan stimulus fiskal yang besar, rasio defisit terhadap PDB Indonesia masih sekitar 2,5 persen.

Indikator lain yang sering diperhatikan untuk mengukur kemampuan membayar utang adalah keseimbangan primer. Ini adalah surplus atau defisit yang terjadi pada anggaran sebelum pembayaran bunga utang. Rasio yang positif menunjukkan adanya kemampuan membayar utang. Dalam ukuran ini pun keadaan anggaran kita masih cukup baik, seperti yang terlihat dari kesetimbangan primer yang selalu positif dalam beberapa tahun terakhir ini (tabel 2).

Sebaliknya, keadaan utang negara-negara maju saat ini banyak yang melewati batas prinsip kehati-hatian. Rasio utang terhadap PDB Jepang, misalnya, diprediksi 217,2 persen pada tahun 2009. Adapun AS mencapai 87,0 persen.

Lalu, mengapa negara-negara tersebut masih dipercaya oleh investor surat utang?

Seperti disebutkan di atas, investor melihat rasio-rasio utang untuk menentukan apakah suatu negara mampu atau mau membayar utangnya. Kredibilitas negara-negara maju dianggap berbeda dengan negara kita. Walaupun keadaan utangnya lebih buruk dari kita, mereka dianggap pasti mau membayar utangnya. Keadaan yang membuat mereka mendapat perlakuan yang lebih istimewa dari investor surat utang. Sayangnya, keistimewaan seperti ini belum dapat dirasakan oleh Pemerintah Indonesia untuk saat ini.

Diskusi di atas menunjukkan bahwa berutang bukanlah hal tabu. Banyak negara melakukan hal tersebut untuk menunjang pertumbuhan ekonominya. Dilihat dari rasio-rasio yang digunakan oleh ekonom dunia, saat ini utang Indonesia pada level yang cukup aman. Namun, bila kita menunjukkan indikasi tidak membayar utang, rasio-rasio tersebut menjadi tidak berguna. Jadi, perlu pendekatan ekstra hati-hati soal isu utang.

Purbaya Yudhi Sadewa Chief Economist Danareksa Research Institute

Minggu, 12 Juli 2009

GM dan Daftar Kebangkrutan Bisnis AS

Senin, 01/06/2009 20:33 WIB

General Motors dan Catatan Kebangkrutan Terbesar AS
Nurul Qomariyah - detikFinance


Detroit - General Motors (GM) akhirnya mendaftarkan kebangkrutan setelah angka penjualannya terus turun ditambah beban utang yang menggelembung.

GM mendaftarkan perlindungan kebangkrutan chapter 11 di pengadilan niaga di Selatan distrik New York. Kebangkrutan GM akan menjadi salah satu kasus kebangkrutan terbesar dalam sejarah korporasi AS.

Berikut data-data kebangkrutan terbesar yang pernah dicatat korporasi AS, seperti dikutip detikFinance dari Reuters, Senin (1/6/2009).


Lehman Brothers Holdings Inc (2008): Aset US$ 691.063.000.000
WorldCom Inc (2002): Aset US$ 103.914.000.000
General Motors Corp (2009): Aset US$ 91.047.000.000
Enron Corp (2001): Aset US$ 65.503.000.000
Conseco Inc (2002): Aset US$ 61.392.000.000
Chrysler LLC (2009): Aset US$ 39.300.000.000
Thornburg Mortgage Inc (2009): Aset US$ 36.521.000.000
Pacific Gas and Electric Co (2001): Aset US$ 36.152.000.000
Texaco Inc (1987): Aset US$ 34.940.000.000
Financial Corp of America (1988): Aset US$ 33.864.000.000
Refco Inc (2005): Aset US$ 33.333.172.000
Washington Mutual Inc (2008): Aset US$ 32.900.000.000
Global Crossing Ltd (2002): Aset US$ 30.185.000.000
General Growth Properties Inc (2009): Aset US$ 29.557.000.000
Lyondell Chemical Co (2009): Aset US$ 27.392.000.000
UAL Corp (2002): Aset US$ 25.197.000.000
Delta Air Lines Inc (2005): Aset US$ 21.801.000.000
Adelphia Communications Corp (2002): Aset US$ 21.499.000.000
MCorp (1989): Aset US$ 20.228.000.000
Mirant Corp (2003): Aset US$ 19.415.000.000
Delphi Corp (2005): Aset US$ 16.593.000.000.


(qom/qom)

GM Baru


Sabtu, 11/07/2009 10:09 WIB

GM Terlahir Kembali
Wahyu Daniel - detikFinance


Foto: Reuters

Jakarta - Setelah dinyatakan bangkrut, General Motors Company (GM) baru dibentuk kembali dan mulai beroperasi. GM baru ini terlahir setelah GM sebelumnya meminta perlindungan kebangkrutan via chapter 11

"Hari ini merupakan sebuah awal baru bagi General Motors, termasuk bagi para pegawai dan saya untuk kembali kepada bisnis untuk mendesain, membangun, dan menjual mobil-mobil hebat, truk, dan melayani setiap kebutuhan para pelanggan," ujar CEO GM Fritz Henderson dalam siaran pers yang diterima detikFinance , Sabtu (11/7/2009).

Fritz mengatakan, dirinya bersama pegawai lain akan bekerja keras untuk membayar kepercayaan pemerintah dengan membangun GM baru yang berjalan sukses.

Adapun empat merek utama yang dimiliki GM adalah Chevrolet, Cadillac, Buick and GMC cars. Perusahaan juga akan terus berusaha mempunyai neraca keuangan yang bersih dan lebih mengefisienkan biaya-biaya yang ada.

"Satu hal yang kita pelajari dan 100 hari terakhir ini adalah bahwa GM dapat bergerak cepat. Hari ini kita harus bergerak cepat dan merubah keadaan dari proses kebangkrutan yang lalu menjadi sebuah GM yang baru," kata Fritz.

Bentuk GM baru ini memang lebih kecil dan efisien, karena itu pada akhir 2009 GM akan mengurangi jumlah dealer dari 6.000 dealer di AS menjadi 3.600 dealer saja. Namun meski begitu GM tetap menjadi perusahaan yang mempunyai jaringan dealer terbesar di AS.

GM baru ini sebagaian besar sahamnya dimiliki oleh pemerintah AS. Daftar kepemilikan GM baru ini adalah:


Departemen Keuangan AS: 60.8%
UAW (United Auto Workers ) Retiree Medical Benefits Trust : 17.5%
Penmerintah Kanada dan Ontario: 11.7%
GM Lama: 10%


GM baru ini akan beroperasi dengan neraca yang lebih kuat dengan bantuan utang pemerintah AS sekitar US$ 11 miliar, di luar itu ada juga saham sebesar US$ 9 miliar.

(dnl/dnl)